Anda Takut Terbang di Pesawat? Ini Fakta dan Tips untuk Mengatasinya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Seabad yang lalu, terbang masih dianggap sebagai impian belaka, tidak seperti masa kini, dengan lebih dari 100.000 penerbangan setiap hari, menurut International Air Transport Association (IATA), perjalanan udara telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Pada 2024 saja, diperkirakan 4,4 miliar penumpang terbang di seluruh dunia, termasuk rekor 848 juta penumpang di Amerika Serikat, menurut data Bureau of Transportation Statistics (BTS).
Selain menjadi moda transportasi yang cepat dan efisien, perjalanan udara juga semakin aman. Data IATA menunjukkan bahwa pada 2023, tingkat kecelakaan mencapai rekor terendah dalam beberapa dekade, yaitu satu kecelakaan untuk setiap 1,26 juta penerbangan. Bahkan, dibandingkan dengan kendaraan lain seperti mobil, kapal feri, kereta bawah tanah, kereta api, dan bus, pesawat terbang tetap menjadi pilihan paling aman.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa meskipun statistik menunjukkan keamanan tinggi, ada momen-momen yang bisa membuat jantung berdebar, bahkan bagi penumpang yang sudah terbiasa terbang. Saat roda pesawat mulai bergerak di landasan atau ketika turbulensi tiba-tiba mengguncang kabin, wajar jika tangan mulai mencengkeram sandaran kursi lebih erat.
Bagi sebagian orang, perasaan ini hanya berlangsung sesaat. Namun, bagi mereka yang mengalami aviophobia atau ketakutan berlebihan terhadap penerbangan, perasaan cemas ini bisa menjadi mimpi buruk. Aviophobia bisa muncul karena berbagai alasan, mulai dari pengalaman buruk di masa lalu hingga rasa tidak berdaya karena tidak bisa mengendalikan keadaan di udara. Claustrophobia atau ketakutan terhadap ruang sempit juga bisa memperburuk kondisi ini, terutama saat berada di dalam kabin pesawat yang terasa sesak.
Jika Anda termasuk orang yang merasa cemas saat terbang, dilansir dariHealthline, ini beberapa tips yang bisa membantu meredakan ketegangan:
1. Tetap Tenang dan Fokus
- Tarik napas dalam-dalam: Coba teknik pernapasan 4-6 (tarik napas empat hitungan, buang napas enam hitungan).
- Ulangi mantra menenangkan: Ingatkan diri bahwa statistik menunjukkan pesawat adalah moda transportasi paling aman.
- Ubah fokus: Alihkan perhatian dengan membayangkan tujuan yang menyenangkan atau hal yang dinanti saat mendarat.
2. Gunakan Teknik Grounding
- Lakukan teknik fisik: Silangkan tangan di dada atau genggam sesuatu yang menenangkan seperti batu halus atau bola stres.
- Gunakan metode 5-4-3-2-1: Sebutkan lima hal yang bisa dilihat, empat yang bisa disentuh, tiga yang bisa didengar, dua yang bisa dicium, dan satu yang bisa dirasakan.
- Dengarkan musik menenangkan, white noise, atau meditasi terpandu untuk membantu mengalihkan pikiran.
3. Kurangi Stimulus yang Memicu Kecemasan
- Turunkan penutup jendela agar tidak terganggu oleh pergerakan di luar.
- Gunakan headphone peredam bising untuk mengurangi suara mesin atau suara sekitar.
- Pakai penutup mata untuk menciptakan suasana lebih tenang.
4. Antisipasi Rasa Cemas Sebelum Penerbangan
- Latihan mindfulness atau meditasi beberapa hari sebelum penerbangan.
- Jika memungkinkan, konsultasikan dengan profesional kesehatan mental sebelum perjalanan.
- Kunjungi bandara lebih awal atau bayangkan proses check-in dan boarding untuk mengurangi rasa tidak pasti.
5. Bawa Hiburan untuk Mengalihkan Pikiran
- Unduh film atau serial favorit.
- Bawa buku menarik atau selesaikan teka-teki silang.
- Dengarkan podcast atau tulis jurnal untuk menyalurkan energi gelisah.
- Mainkan gim di ponsel untuk mengalihkan perhatian.
6. Hindari Pemicu Tambahan
Beberapa makanan dan minuman dapat memperburuk kecemasan, seperti:
- Kafein (kopi, teh, soda)
- Minuman energi
- Makanan tinggi gula
7. Kenali Sumber Ketakutan Anda
Jika rasa takut datang dari ketidakpastian, pelajari fakta tentang keselamatan penerbangan. Jika claustrophobia menjadi masalah, pilih kursi dekat lorong atau konsultasikan dengan maskapai tentang opsi boarding awal.
Jika ketakutan terbang benar-benar mengganggu, ada beberapa opsi pengobatan yang bisa dipertimbangkan, seperti obat antikecemasan yang bisa diminum hanya saat diperlukan atau secara rutin sesuai anjuran dokter.
Terapi psikologis, seperti, Exposure therapy (terapi paparan) untuk membiasakan diri dengan pemicu ketakutan secara bertahap, hipnosis untuk mengubah respons bawah sadar terhadap penerbangan, modeling (melihat orang lain yang merasa nyaman saat terbang sebagai contoh), dan Talk therapy (terapi bicara) untuk mengidentifikasi dan mengatasi akar kecemasan.
Pada akhirnya, meskipun ketakutan terhadap penerbangan bisa terasa mencekam, ada banyak cara untuk mengatasinya. Dengan persiapan dan strategi yang tepat, Anda bisa menikmati perjalanan udara dengan lebih nyaman dan percaya diri.
0 Comments





- Sony Resmi Luncurkan Layanan Penyewaan PlayStation 5 di Inggris
- Lamine Yamal Jalani Ramadan Pertama Sebagai Pemain Profesional, Begini Dukungan Barcelona
- Harga Cybertruck Tak Kunjung Turun, 'Model 3' Justru Lebih Terjangkau
- Pihak Kepolisian Akan Terus Kawal Ketat Kasus Gal Gadot di Walk of Fame
- DeepSeek dan Hedge Fund AI: Senjata Baru Tiongkok dalam Perang Investasi
- Taylor Swift Kembali ke Instagram Setelah Hiatus 100 Hari, Dukung Album Baru Selena Gomez
- Kisah Sukses Zach Yadegari, Remaja 18 Tahun di Balik Aplikasi Penghitung Kalori yang Raup Jutaan Dolar
- Justin Bieber Bentak Paparazzi yang Dianggap Tak Sopan, Fans Khawatir dengan Kondisinya
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!