BI Turunkan Suku Bunga Acuan, Diduga Demi Dongkrak Penjualan SBRI

N
Nayla Shabrina
Penulis
News
BI Turunkan Suku Bunga Acuan, Diduga Demi Dongkrak Penjualan SBRI
- (Dok. ANTARA).

 

Bank Indonesia (BI) baru saja bikin heboh pelaku dan pemerhati pasar keuangan dengan keputusan menurunkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen jadi 6,75 persen. Namun, keputusan ini tidak mendapat sambutan hangat, bahkan disinyalir hanya untuk strategi menaikkan penjualan Surat Berharga Republik Indonesia (SBRI) dengan bunga 7,2%.

Bagaimana tidak, seperti dilansir dari Koran Jakarta, keputusan itu dilakukan di tengah tren rupiah yang melemah karena tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin meluas.

Peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, secara terang-terangan menyebut langkah BI menurunkan suku bunga acuan ini sebagai sarat konflik kepentingan yang merugikan kepercayaan publik dan pasar internasional terhadap stabilitas keuangan indonesia.

iklan gulaku

"Penurunan bunga acuan ini membuat BI bersaing langsung dengan bank untuk merebut dana publik. Akibatnya, masyarakat cenderung menarik tabungan mereka dari bank untuk dialihkan ke SBRI atau Surat Berharga Negara (SBN) milik pemerintah," ujar Salamuddin, dikutip dari Koran Jakarta, Rabu, (15/1).

"Ini bukan hanya kebijakan biasa, tetapi sudah seperti langkah dagang yang menggunakan kebijakan publik sebagai alat untuk memenangkan persaingan di pasar uang," imbuhnya.

Tidak hanya itu, Salamuddin bahkan menduga ada kongkalikong antara BI dan Kementerian Keuangan, yang akhirnya menyebabkan ketidakstabilan moneter dan melemahnya nilai tukar rupiah.

"Kedua lembaga ini seakan-akan kehilangan independensi dan justru terkesan memperlemah rupiah demi kepentingan tertentu," ungkap Salamuddin.

Menurutnya, keputusan BI yang kembali menerbitkan SBRI untuk bayar utang jatuh tempo sebesar Rp1.000 triliun membuat banyak pihak curiga bahwa langkah tersebut hanya untuk mendapatkan keuntungan semata dari bunga tinggi.

"Ada kesan bahwa BI dan pemerintah bersaing dalam menjual obligasi. Pemerintah menargetkan penjualan SBN sebesar 600 triliun rupiah, sementara BI menargetkan 1.000 triliun rupiah untuk membayar utang mereka. Ini semakin memperparah ketidakstabilan moneter dan menimbulkan spekulasi bahwa krisis keuangan di depan mata," jelasnya.

 

Rupiah di Ujung Tanduk?

Sejalan dengan Salamuddin, pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, juga mengaku tidak setuju dengan langkah BI. Menurutnya, penurunan suku bunga seperti tidak pakai perhitungan dan pertimbangan atas stabilitas rupiah.

"Ketika suku bunga domestik diturunkan, arus modal keluar menjadi lebih besar karena investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi di pasar lain," ucap Aditya, dikutip dari Koran Jakarta pada Rabu, (15/1).

Penguatan dolar AS di era pemerintahan Trump memang membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah menjadi sesak nafas. Dengan turunnya suku bunga acuan, risiko capital outflow makin besar yang dapat memperburuk pelemahan rupiah.

Aditya mengingatkan bahwa prioritas utama seharusnya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bukan mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek. "Di tengah tekanan eksternal yang tinggi, stabilitas nilai tukar rupiah harus menjadi prioritas utama," terangnya.

Di samping itu, Pengamat Kebijakan Publik Forum Indonesia untuk Transparansi Anggara (Fitra), Badiul Hadi, ikut menyoroti dampak keputusan BI ini. Menurutnya, kebijakan ini membuat daya tarik rupiah semakin memudar di mata investor asing.

"Kondisi ini bisa meningkatkan risiko capital outflow, apalagi kontraproduktif dengan rencana kebijakan Presiden Trump," jelas Badrul dalam kesempatan yang sama.

Merespons hal tersebut, ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky berharap BI bisa lebih fokus menjaga nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal sepanjang Desember 2024.

Mengacu data dari LPEM, sejak pertengahan Desember 2024 hingga Januari 2025, ada arus modal keluar sebesar USD 750 juta atau setara Rp12,22 triliun. Dari jumlah itu, USD 120 juta berasal dari pasar obligasi dan USD 630 juta keluar dari pasar saham. Rupiah pun ikut tertekan, turun ke level Rp16.195 per dollar AS pada 9 Januari 2025.

Keputusan BI ini bukan cuma soal angka, tapi juga soal kepercayaan. Ketika pasar mulai meragukan langkah-langkah otoritas moneter, dapat berdampak panjang. Jadi, menurut Gen Z, langkah BI ini strategi cerdas atau malah bikin blunder besar?

  • Tag:
  • GAC Group
  • Robot
  • AI

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today
Contraflow Tol Japek Arah Jakarta Dihentikan Gegara Hal Ini
Rivaldi Dani Rahmadi