Kisah Mengerikan BA009, Empat Mesin Boeing 747 Mati di Atas Jawa akibat Abu Vulkanik
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pesawat Boeing 747 milik British Airways pernah menghadapi salah satu situasi paling kritis dalam sejarah penerbangan ketika melintas di atas wilayah Indonesia pada 1982. Pesawat dengan nomor penerbangan BA009 itu tiba-tiba kehilangan seluruh tenaga mesin setelah tanpa disadari memasuki awan abu vulkanik dari letusan Gunung Galunggung, Jawa Barat.
Penerbangan tersebut berangkat dari Bandara Heathrow, London, pada malam 23 Juni 1982 dengan tujuan Auckland, Selandia Baru. Setelah singgah di Kuala Lumpur, pesawat melanjutkan perjalanan menuju Perth, Australia.
Saat berada di sekitar selatan Pulau Jawa pada 24 Juni 1982, Boeing 747 tersebut terbang di ketinggian sekitar 37.000 kaki. Saat itu, awak pesawat dan penumpang mulai melihat sejumlah keanehan.
Debu atau asap terlihat memasuki kabin. Di bagian luar, awak pesawat juga melihat cahaya yang menyerupai fenomena api St. Elmo pada kaca depan dan sayap pesawat.
Belakangan diketahui, pesawat tersebut sedang melintasi awan abu vulkanik yang berasal dari Gunung Galunggung. Abu vulkanik tersebut ternyata membawa ancaman serius terhadap empat mesin pesawat.
Sekitar pukul 13.45, mesin nomor 4 mengalami lonjakan daya sebelum akhirnya mati. Awak kokpit kemudian berusaha menghidupkan kembali mesin tersebut.
Namun, kondisi justru semakin buruk. Hanya beberapa menit kemudian, tiga mesin lainnya ikut mengalami masalah hingga pada sekitar pukul 13.48 seluruh mesin Boeing 747 tersebut mati.
Pesawat yang berada di ketinggian 37.000 kaki itu mendadak kehilangan tenaga dan harus meluncur turun. Awak pesawat kemudian mengirimkan panggilan darurat Mayday.
Dalam kondisi tanpa tenaga mesin, satu-satunya cara untuk mempertahankan pesawat tetap terbang adalah dengan terus menurunkan ketinggian. Awak juga harus mencari lapisan udara yang memungkinkan mesin kembali berfungsi sekaligus menjaga pesawat tetap terkendali.
Sekitar pukul 13.51, pesawat telah turun ke ketinggian 28.000 kaki. Dua menit kemudian, ketinggiannya kembali turun hingga sekitar 26.000 kaki dan awak kokpit mulai menggunakan masker oksigen.
Secara keseluruhan, BA009 kehilangan sekitar 23.000 kaki selama meluncur tanpa tenaga mesin. Pesawat yang sebelumnya berada di 37.000 kaki akhirnya turun hingga sekitar 13.000-14.000 kaki.
Situasi tersebut membuat awak pesawat mulai mempertimbangkan kemungkinan terburuk. Kapten bahkan sempat memikirkan opsi melakukan pendaratan darurat di laut karena pesawat kehilangan seluruh tenaga mesin dan kondisi di luar sudah gelap.
Harapan muncul sekitar pukul 13.58 ketika mesin nomor 4 berhasil dihidupkan kembali setelah pesawat keluar dari awan abu. Tidak lama kemudian, mesin nomor 2 dan 3 juga berhasil dinyalakan.
Pesawat perlahan kembali mendapatkan tenaga. Meski demikian, gangguan belum sepenuhnya berakhir karena mesin nomor 2 kembali mengalami lonjakan daya sehingga harus dimatikan.
Kapten kemudian memutuskan mengalihkan penerbangan menuju Jakarta. Pesawat diturunkan hingga sekitar 12.000 kaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bandara Halim.
Masalah lain juga muncul pada bagian kaca depan. Abrasi akibat abu vulkanik membuat kaca pesawat mengalami kerusakan parah dan menjadi buram. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang awak kokpit sangat terbatas ketika melakukan pendaratan.
Meski menghadapi berbagai kendala, awak BA009 akhirnya berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat di Bandara Halim, Jakarta, sekitar pukul 14.25. Pesawat kemudian diderek menuju terminal dan tiba sekitar pukul 14.46.
Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai "Insiden Jakarta" dan menjadi salah satu kejadian penting dalam sejarah penerbangan terkait bahaya abu vulkanik.
Insiden BA009 juga menunjukkan bahwa awan abu vulkanik dapat menjadi ancaman serius bagi pesawat meskipun keberadaannya tidak selalu mudah terlihat. Partikel abu yang masuk ke mesin dapat mengganggu proses pembakaran hingga menyebabkan mesin kehilangan tenaga atau bahkan mati.
Bagi para penumpang BA009, pengalaman tersebut menjadi momen yang sulit dilupakan. Setelah keempat mesin berhenti bekerja, suasana di dalam pesawat mendadak sunyi. Penumpang juga merasakan guncangan serta sensasi pesawat meluncur turun ribuan kaki tanpa dorongan mesin.
Kejadian tersebut akhirnya menjadi pelajaran penting bagi industri penerbangan mengenai perlunya kewaspadaan terhadap aktivitas vulkanik dan penyebaran abu di jalur penerbangan, terutama di wilayah yang memiliki banyak gunung api seperti Indonesia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!