8 Bandara Terpaksa Tutup akibat Abu Anak Krakatau, Soetta-Halim Kena Dampaknya
Penutupan sejumlah bandara dilakukan pada waktu berbeda pada Minggu (6/9/2026) akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kemenhub menyiapkan tiga bandara alternatif untuk penerbangan terdampak
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebanyak delapan bandara ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026) akibat terdampak abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau. Penutupan dilakukan pada waktu yang berbeda dan sebagian dijadwalkan berlangsung hingga sore hari.
Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG Achadi Subarkah Raharjo mengatakan penutupan sementara dilakukan sebagai langkah untuk menjaga keselamatan penerbangan. Status operasional tersebut merupakan pembaruan kondisi per 6 September 2026 pukul 13.56 WIB.
8 Bandara Terdampak Abu Vulkanik
Delapan bandara yang mengalami penutupan sementara tersebar di Jakarta, Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Masing-masing bandara memiliki jadwal penutupan yang berbeda sesuai dengan kondisi abu vulkanik dan perkembangan situasi di wilayah penerbangan.
Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ditutup mulai pukul 02.08 hingga 17.30 WIB. Sementara Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) ditutup sejak pukul 07.20 hingga 18.00 WIB.
Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) awalnya ditutup mulai pukul 04.18 hingga 14.00 WIB. Kemudian Bandara Husein Sastranegara (BDO) dijadwalkan tutup mulai pukul 12.07 hingga 16.00 WIB.
Selanjutnya, Bandara Budiarto Curug (RTO) ditutup pukul 06.48 hingga 17.30 WIB. Bandara Pondok Cabe (PCB) mengalami penutupan mulai pukul 10.05 hingga 14.00 WIB.
Bandara Taufik Kiemas (TFY) ditutup mulai pukul 11.30 sampai 15.00 WIB. Sedangkan Bandara Atung Bungsu (PXA) ditutup mulai pukul 13.34 hingga 17.00 WIB.
Penutupan Bandara Radin Inten II Berpotensi Diperpanjang
Khusus Bandara Radin Inten II Lampung, jadwal penutupan berpotensi mengalami perpanjangan. Hal tersebut dilakukan karena abu vulkanik masih terpantau di kawasan tersebut.
"Masih akan diperpanjang, karena abu vulkanik teramati positif," kata Achadi saat ditanya mengenai kemungkinan Bandara Radin Inten II kembali beroperasi pada pukul 14.00 WIB.
Kondisi abu vulkanik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keamanan operasional penerbangan. Karena itu, jadwal pembukaan kembali bandara dapat berubah mengikuti hasil pemantauan kondisi udara dan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Penutupan sementara juga dilakukan pada sejumlah bandara lainnya dengan waktu yang telah disesuaikan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah. Pihak terkait terus melakukan pemantauan untuk menentukan perkembangan status operasional bandara.
Kemenhub Siapkan 3 Bandara Alternatif
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah telah menyiapkan tiga bandara alternatif untuk mengantisipasi dampak penutupan terhadap penerbangan. Bandara tersebut dapat menjadi pilihan pendaratan bagi maskapai yang terdampak penutupan sejumlah bandara.
Tiga bandara alternatif yang disiapkan yakni Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Selain itu, pemerintah menyiapkan Bandara Ahmad Yani di Semarang, Jawa Tengah, dan Bandar Udara Internasional Juanda di Surabaya, Jawa Timur.
Penyediaan bandara alternatif tersebut dilakukan untuk menjaga konektivitas penerbangan di tengah gangguan akibat abu vulkanik. Maskapai yang terdampak dapat melakukan penyesuaian operasional sesuai kondisi dan arahan otoritas penerbangan.
Pemerintah bersama BMKG dan instansi terkait juga terus memantau pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pemantauan tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah operasional berikutnya demi menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat.
Jadwal Penutupan Bisa Berubah
Masyarakat yang memiliki jadwal penerbangan dari atau menuju bandara terdampak diimbau memperhatikan informasi terbaru dari maskapai dan pengelola bandara. Hal ini penting karena status operasional dapat berubah apabila kondisi abu vulkanik masih terdeteksi atau kembali memburuk.
Dengan ditutupnya delapan bandara tersebut, aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah mengalami penyesuaian pada Minggu (6/9/2026). Pemerintah menyiapkan alternatif sekaligus melakukan pemantauan untuk memastikan penerbangan dapat kembali berjalan dengan aman setelah kondisi dinyatakan memungkinkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!