Mengapa Indonesia Tak Memberi Ucapan Resmi atas Kematian Ali Khamenei?

Mengapa Indonesia Tak Memberi Ucapan Resmi atas Kematian Ali Khamenei?
- (Dok. Suara Muhammadiyah).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel memicu gelombang reaksi internasional. Sejumlah pemimpin dunia langsung menyampaikan pernyataan terbuka, mulai dari belasungkawa hingga harapan akan perubahan politik di Iran. Namun, di tengah ramainya respons global, sikap resmi Indonesia justru menjadi sorotan karena belum terlihat jelas.

Media pemerintah Iran mengonfirmasi wafatnya Khamenei pada Minggu (1/3), menyusul rangkaian serangan yang melanda negara tersebut sepanjang pekan. Khamenei dikenal sebagai figur sentral dalam politik Iran selama lebih dari tiga dekade, sehingga kematiannya dinilai berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah.

Di Eropa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menilai kematian Khamenei membuka peluang baru bagi rakyat Iran, tetapi juga membawa risiko ketidakstabilan kawasan. Senada, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyebut momen tersebut sebagai titik penting dalam sejarah Iran, dengan kemungkinan terbukanya arah baru bagi kebebasan masyarakat.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menilai Iran kini memasuki fase transisi yang belum jelas ujungnya. Ia menyoroti hilangnya figur otoritas yang selama ini memegang kendali kuat atas negara tersebut. Dari Prancis, juru bicara pemerintah Maud Brégeon menyatakan bahwa masa depan Iran kini sepenuhnya berada di tangan rakyatnya.

Berbeda dengan nada kritis negara-negara Barat, Presiden Rusia Vladimir Putin justru menyampaikan belasungkawa mendalam. Moskow mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran norma internasional. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Swedia Maria Stenergard menilai situasi saat ini penuh ketidakpastian dan berisiko memicu spiral kekerasan baru di Timur Tengah.

Di Indonesia, respons paling jelas justru datang dari organisasi masyarakat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Khamenei dan mengkritik keras peran AS dalam konflik Timur Tengah. MUI bahkan mendesak pemerintah Indonesia mengevaluasi keterlibatan dalam forum internasional terkait konflik Palestina.

Namun hingga kini, pemerintah Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi setingkat kepala negara atau kementerian luar negeri. Absennya sikap formal ini menimbulkan pertanyaan publik, terutama mengingat Indonesia selama ini dikenal aktif menyuarakan isu Palestina dan stabilitas Timur Tengah.

Sejumlah pengamat menilai kehati-hatian pemerintah bisa jadi dipengaruhi oleh sensitivitas geopolitik. Kematian Khamenei tidak hanya menyangkut Iran, tetapi juga berpotensi menyeret konflik yang melibatkan kekuatan global. Dalam konteks ini, setiap pernyataan resmi berisiko berdampak pada hubungan diplomatik, baik dengan negara Barat maupun dunia Islam.

Di tengah situasi global yang memanas, pilihan diam Indonesia bisa dibaca sebagai strategi menahan posisi. Namun, di sisi lain, sikap tersebut juga membuka ruang perdebatan publik tentang konsistensi politik luar negeri Indonesia yang selama ini mengusung prinsip bebas aktif.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE