Putin Buka Suara, Sebut Pembunuhan Khamenei oleh AS-Israel Pelanggaran Moral dan Hukum Internasional
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Rusia Vladimir Putin angkat suara terkait tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.
Putin mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap moralitas serta hukum internasional.
Mengutip AFP, Senin (2/3/2026), Kremlin merilis surat resmi yang dikirim Putin kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu. Dalam surat itu, Putin menyampaikan "belasungkawa terdalam atas pembunuhan" Khamenei.
Ia menilai tindakan tersebut dilakukan dengan "pelanggaran sinis terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional." Putin juga menyebut Khamenei sebagai "negarawan luar biasa" yang memberikan kontribusi besar dalam mempererat hubungan persahabatan Rusia dan Iran.
Putin meminta Pezeshkian untuk menyampaikan simpati dan dukungannya kepada keluarga Khamenei serta kepada pemerintah dan rakyat Iran. Pernyataan ini menegaskan posisi Moskow yang berada di belakang Teheran dalam krisis terbaru di Timur Tengah.
Sehari sebelumnya, Rusia telah lebih dulu mengutuk serangan terhadap Iran sebagai "petualangan berbahaya" yang berpotensi memicu "bencana" regional. Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov melakukan pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa komunikasi tersebut dilakukan atas inisiatif pihak Iran.
Rusia dan Iran memang dikenal sebagai sekutu dekat dalam beberapa tahun terakhir. Teheran disebut memberikan dukungan terhadap operasi militer Rusia di Ukraina, sementara pada 2025 kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis yang memperkuat kerja sama, termasuk di bidang militer.
Kecaman keras dari Putin ini memperlihatkan potensi eskalasi diplomatik yang lebih luas. Dengan Rusia secara terbuka membela Iran dan mengecam AS serta Israel, ketegangan geopolitik global kini tak hanya terpusat di Timur Tengah, tetapi juga berisiko menyeret kekuatan besar dunia ke dalam pusaran konflik yang lebih dalam.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!