Hadapi Ancaman Gempa Megathrust, Kantor SAR Lampung Susun Rencana Kontingensi Bersama Basarnas dan BPBD
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Provinsi Lampung menggelar Rapat Koordinasi Penyusunan Rencana Kontingensi untuk menghadapi potensi gempa bumi megathrust yang berisiko besar mengguncang wilayah Lampung dan sekitarnya. Kegiatan yang berlangsung di Swiss-Belhotel Bandar Lampung pada Kamis (30/10) ini dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah dan organisasi kemanusiaan.
Rapat dipimpin langsung oleh Deputi Pencarian, Pertolongan, dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Mayjen TNI Edy Prakoso. Hadir pula perwakilan dari TNI-Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), akademisi, relawan, serta instansi pemerintah lainnya.
Dalam sambutannya, Mayjen Edy menegaskan pentingnya penyusunan rencana kontingensi sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana besar yang tidak dapat diprediksi waktunya. "Kita tidak bisa menebak kapan bencana akan datang, tapi kita bisa menyiapkan diri sebaik mungkin. Rencana kontingensi ini menjadi panduan operasional bagi seluruh pihak agar bisa bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika bencana terjadi," ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa wilayah selatan Sumatera, termasuk Lampung, berada di zona rawan megathrust akibat pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab Basarnas, tetapi juga pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat. "Kita harus memperkuat kapasitas personel, sarana prasarana, serta sistem komando dan komunikasi dalam operasi SAR," tambahnya.
Kegiatan ini juga meliputi sesi pemaparan teknis mengenai penyusunan skenario tanggap darurat, pemetaan wilayah rawan bencana, jalur evakuasi, hingga perencanaan kebutuhan logistik dan sumber daya manusia jika gempa besar terjadi.
Kepala BPBD Provinsi Lampung, Rudy Sjawal Sugiharto, menyambut baik inisiatif Basarnas dan Kantor SAR Lampung dalam menggelar kegiatan lintas sektor tersebut. "Lampung adalah wilayah pesisir yang padat penduduk dan rawan terhadap gempa serta tsunami. Kesiapsiagaan lintas instansi seperti ini sangat penting agar penanganan darurat bisa berjalan cepat dan terukur," jelasnya.
Rudy juga menegaskan komitmen BPBD untuk memperkuat sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan, terutama di daerah seperti Pesisir Barat, Tanggamus, dan Lampung Selatan. "Edukasi harus dilakukan sejak dini, mulai dari sekolah hingga lingkungan masyarakat. Semua orang harus tahu bagaimana cara menyelamatkan diri," ujarnya.
Selain membahas kesiapan teknis, rapat juga menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga dalam hal sistem informasi bencana, komando lapangan, dan distribusi bantuan. Kepala Kantor SAR Lampung menegaskan bahwa sinergi menjadi kunci agar tidak terjadi kebingungan di lapangan ketika bencana benar-benar datang.
Rapat ditutup dengan penyusunan rancangan awal rencana kontingensi yang akan disempurnakan melalui simulasi lanjutan. Diharapkan, dokumen ini menjadi pedoman terpadu bagi seluruh instansi di Provinsi Lampung untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa megathrust, tsunami, dan bencana turunan lainnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!