Petani Badui Mulai Olah Ladang Padi Huma Sesuai Kalender Adat

Petani Badui Mulai Olah Ladang Padi Huma Sesuai Kalender Adat
- (Dok. Kompas).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Komunitas petani Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, memulai musim tanam dengan membuka lahan untuk pertanian padi huma. Aktivitas ini dilakukan berdasarkan kalender adat yang telah diwariskan secara turun-temurun, sekaligus menjadi simbol pelestarian budaya dan ketahanan pangan komunitas tersebut.

Santa (55), petani Badui dari Blok Cicuraheum Gunung Kencana, menyebut bahwa kegiatan pembukaan hutan untuk ladang berjalan lancar. Para petani memulai proses dengan membabat ilalang dan pepohonan secara manual tanpa bantuan alat berat atau bahan kimia.

"Semua masih organik, tidak ada pupuk kimia. Hasil pembakaran sisa-sisa semak juga digunakan sebagai pupuk alami," kata Santa, dilansir dariANTARA News, Rabu (30/7).

Pengolahan lahan padi huma akan dilanjutkan dengan gerakan tanam padi pada September 2025, dan hasil panennya diperkirakan siap pada Maret 2026. Padi yang ditanam adalah varietas lokal yang sudah lama digunakan oleh masyarakat Badui, menunjukkan kelekatan mereka pada kearifan lokal.

Sekretaris Desa Kanekes, Medi, menjelaskan bahwa ladang huma bukan hanya sumber pangan utama, tetapi juga bagian dari filosofi hidup masyarakat Badui yang berprinsip pada keselarasan dengan alam. Sistem pertanian ini telah menjaga mereka dari krisis pangan meskipun berada di wilayah terisolasi.

"Sampai saat ini tidak ada laporan rawan pangan atau kelaparan di wilayah Badui. Ini karena mereka mandiri dalam menyediakan bahan pangan," ujar Medi.

Hasil panen padi huma disimpan dalam leuit, yaitu rumah pangan tradisional berbentuk lumbung, yang masing-masing bisa menampung hingga empat ton gabah. Leuit menjadi simbol penting dalam budaya Badui karena berperan dalam menjamin ketersediaan pangan keluarga sepanjang tahun.

Tak hanya padi, petani Badui juga menanam palawija dan sayuran. Hasil dari tanaman ini sering dijual ke pasar sekitar dan menjadi sumber pendapatan tambahan.

Deni Iskandar, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, menyebut kontribusi petani Badui terhadap ketahanan pangan lokal sangat signifikan. Dengan keberadaan sekitar 2.000 leuit, stok gabah masyarakat Badui diperkirakan mencapai 800 ribu ton.

"Ini bukti bahwa masyarakat adat juga bisa mandiri secara pangan tanpa tergantung pada sistem pertanian modern," ujar Deni.

Tradisi bertani masyarakat Badui yang lestari menjadi contoh nyata bahwa praktik pertanian berkelanjutan dan kearifan lokal bisa menjadi solusi jangka panjang untuk ketahanan pangan daerah.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE