Mobil Brimob Bisa Tahan Granat, Tapi Kok Malah Lindes Ojol? Gofar Hilman Soroti Kejanggalan!

Mobil Brimob Bisa Tahan Granat, Tapi Kok Malah Lindes Ojol? Gofar Hilman Soroti Kejanggalan!
- (Dok. Ig/bemsi & pergijauh).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, belakangan ini publik lagi dihebohkan sama insiden tragis di sekitar DPR RI. Seorang driver ojek online meninggal dunia setelah terlindas mobil taktis Brimob saat polisi coba membubarkan massa demo.

Peristiwa ini bukan cuma bikin duka, tapi juga memunculkan banyak tanda tanya.
Salah satu yang ikut bersuara adalah Gofar Hilman.

Lewat akun Instagramnya @pergijauh, Gofar bikin video singkat yang langsung bikin warganet mikir ulang soal kendaraan anti huru-hara milik Brimob. Bukan cuma soal kejadian yang menelan korban, tapi juga soal kenapa mobil sekuat itu harus dipacu kencang di tengah situasi penuh massa sipil.

Dalam videonya, Gofar jelas banget nyebutin spesifikasi mobil taktis tersebut. Katanya, kendaraan itu punya sistem penggerak 4x4 dengan basis Mercedes Benz Unimog. Bodinya dilapisi plat baja setebal 8 mm, kacanya 4 mm plus ada tambahan plat lagi. Bahkan mobil ini dirancang bisa menahan ledakan granat dan tembakan peluru.

"Mobil Brimob nabrak ojol inalilahhiwa inalilahhirojiun. Gue pengen bahasa dikit soal mobil anti huruhara Brimob barang udah 4x4, punya basic Mercedes Benz Unimog, ketebalan plat bodinya 8mm, kacanya punya ketebalan 4mm, ada lapisan plat pula. Punya kemampuan nahan granat dan peluru garis bawah nahan granat dan peluru ketika menghalau masa gue yakin mereka tidak membawa granat dan peluru. Pertanyaan gue kenapa harus ngebut semoga Indonesia kita baik baik aja," begitu kata Gofar dalam videonya.

Dari pernyataan itu, jelas banget dia pengen highlight kejanggalan: mobil dengan spesifikasi militer, yang sejatinya dipakai buat menghadapi ancaman serius kayak granat atau senjata api, malah melaju kencang di tengah massa sipil yang nggak bersenjata.

Komentar Gofar ini langsung ramai diperbincangkan. Banyak yang sepakat bahwa mobil sekuat itu seharusnya jadi pelindung, bukan justru menimbulkan korban. Publik makin mendesak agar kasus ini diusut tuntas, termasuk soal prosedur penggunaan kendaraan taktis di lapangan.

Kasus ini jadi pengingat, Gen, bahwa teknologi militer sekuat apapun kalau salah digunakan, tetap bisa jadi bumerang. Apalagi ketika yang jadi korban adalah warga sipil yang nggak punya daya lawan.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE