Iran Hancurkan 8 Fasilitas Militer AS di Kuwait dan Bahrain
TEHERAN, GENVOICE.ID - Kementerian Dalam Negeri Bahrain, membenarkan sirene serangan udara berbunyi dua kali di Bahrain pada hari Minggu, (28/6), dimana serangan itu menghancurkan delapan fasilitas militer AS yang penting di pangkalan Ali al-Salem di Kuwait dan di pangkalan angkatan laut Armada Kelima di Port Salman di Bahrain.
"Setiap agresi musuh, apa pun dalihnya, bahkan terhadap target yang tidak penting akan mendapat tanggapan yang menghancurkan," kata Garda Revolusi.
.Teheran pada Minggu (28/6) mengatakan telah melakukan serangan balasan di hari ketiga atas serangan Amerika Serikat (AS) di wilayah Iran. Kedua negara yang bertikai itu saling menuduh melanggar gencatan senjata yang rapuh, sehingga memperketat negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Penyampaian tersebut menegaskan kerapuhan proses perdamaian yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari, sehingga mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz dan mengguncang pasar energi global.
Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa mereka mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz yang vital dan kapal-kapal yang melanggar akan ditindak lebih tegas daripada sebelumnya.
Satu-satunya jalur resmi yang diizinkan oleh Teheran melewati koridor yang membentang di sepanjang pantai Iran.
Pasukan Garda Revolusi mengatakan bahwa mereka juga telah melakukan serangan balasan di Kuwait dan Bahrain.
Sebuah nota kesepahaman dicapai pada pertengahan Juni di bawah mediasi Pakistan, yang bertujuan untuk mengakhiri perang secara permanen. Teks yang ditandatangani oleh AS dan Iran menyatakan bahwa kedua negara, dan sekutu masing-masing, tidak boleh memulai perang atau operasi militer apa pun terhadap satu sama lain dan harus menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain".
Tidak Bersikap Rasional
Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa Iran "tidak akan ada lagi" jika AS dipaksa untuk melanjutkan perang. Ancaman itu muncul setelah pasukan AS mengatakan mereka menyerang beberapa target Iran pada hari Sabtu sebagai respons balasan atas serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
"Pesawat-pesawat AS baru saja menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta situs radar pantai, karena melanggar Perjanjian Gencatan Senjata, LAGI!" tulis Trump di Truth Social.
"Mungkin akan tiba saatnya kita tidak lagi mampu bersikap rasional, dan akan terpaksa menyelesaikan secara militer pekerjaan yang telah kita mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!" tulis Trump.
Komando Pusat AS mengatakan serangan pada hari Sabtu itu sebagai tanggapan terhadap serangan pesawat tak berawak Iran terhadap kapal tanker minyak berbendera Panama "Kiku", yang membawa sekitar dua juta barel minyak mentah.
Militer AS mengatakan operasi mereka menargetkan "infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, lokasi pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau.
Media Iran melaporkan beberapa ledakan di daerah Sirik dan Qeshm di Iran selatan.
Washington telah melakukan serangan serupa pada hari Jumat, dengan mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan tanggapan terhadap serangan Iran sebelumnya terhadap kapal lain, "Ever Lovely".
Sementara itu, Israel melancarkan serangan di Lebanon ketika pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menolak kesepakatan untuk mengakhiri konflik tersebut, yang juga mengancam akan menggagalkan upaya perdamaian AS-Iran yang lebih luas.
Iran menyebut serangan brutal itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata sementara. Iran telah memperingatkan kapal-kapal untuk tidak memasuki atau meninggalkan Teluk melalui selat tersebut tanpa izin, tetapi kapal-kapal terus bergerak, beberapa di antaranya menggunakan rute yang tidak diizinkan oleh Teheran.
Dalam nota kesepahaman, Iran sebelumnya telah menyetujui lintasan aman bagi kapal dagang tanpa biaya, hanya selama 60 hari, dari Teluk Persia ke Laut Oman, dan sebaliknya di selat tersebut.
HA Hellyer, dari lembaga think tank London, Royal United Services Institute, mengatakan, Iran kemungkinan akan melanjutkan aktivitas koersif tingkat rendah yang terukur di dalam dan sekitar Selat Hormuz untuk menciptakan tekanan terus-menerus pada pelayaran internasional tanpa memicu konflik yang lebih luas. AFP/SB/E-9

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!