Mengapa Virus Nipah Terus Muncul di India dan Apa Hubungannya dengan Aktivitas Manusia?

Mengapa Virus Nipah Terus Muncul di India dan Apa Hubungannya dengan Aktivitas Manusia?
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah sejumlah kasus dilaporkan muncul di India. Patogen zoonosis ini dikenal berbahaya karena mampu menular dari hewan ke manusia dan menyebabkan penyakit serius, mulai dari gangguan pernapasan hingga radang otak.

World Health Organization (WHO) bahkan mengklasifikasikan virus Nipah sebagai priority pathogen karena tingkat kematiannya tinggi dan hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus.

Di balik kemunculannya yang berulang, virus Nipah tidak bisa dilepaskan dari pola hubungan manusia dengan lingkungan. WHO menjelaskan bahwa virus ini secara alami hidup pada kelelawar buah dari genus Pteropus yang berperan sebagai reservoir. Kelelawar tersebut umumnya tidak menunjukkan gejala, namun virus dapat berpindah ke hewan lain seperti babi, sebelum akhirnya menginfeksi manusia melalui peristiwa spillover.

Dokter umum sekaligus penasihat medis IQdoctor, Dr. Suzanne Wylie, menyebut penularan virus Nipah umumnya terjadi ketika manusia melakukan kontak dekat dengan hewan terinfeksi atau lingkungan yang telah terkontaminasi. Dalam kondisi tertentu, virus ini juga bisa menyebar dari manusia ke manusia, terutama melalui kontak dengan cairan tubuh. Pola inilah yang membuat wabah Nipah kerap bersifat lokal, tetapi berpotensi berkembang cepat jika tidak ditangani dengan pengendalian ketat.

Sejarah mencatat, wabah pertama virus Nipah di Malaysia pada 1999 banyak melibatkan babi sebagai perantara penularan ke manusia. Kontak langsung dengan cairan tubuh hewan terinfeksi menjadi jalur utama penyebaran. Meski wabah di India tidak selalu melibatkan babi, mekanisme penularan dari hewan ke manusia tetap menjadi faktor dominan dalam setiap kemunculannya.

Selain kontak dengan hewan, makanan yang terkontaminasi juga berperan besar. Konsumsi buah atau produk buah yang terpapar air liur atau urine kelelawar disebut sebagai salah satu jalur penularan yang sering terjadi di Asia Selatan. Beberapa wabah di India dan Bangladesh bahkan dikaitkan dengan konsumsi jus kurma mentah yang terkontaminasi kelelawar.

Risiko tidak berhenti di situ. Virus Nipah juga dapat menyebar antarmanusia, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan. WHO mencatat penularan pernah terjadi di rumah sakit melalui kontak erat dengan pasien, termasuk pada tenaga kesehatan, jika prosedur pengendalian infeksi tidak diterapkan secara optimal.

WHO menilai kemunculan virus Nipah yang berulang di India berkaitan erat dengan perubahan lingkungan. Deforestasi, ekspansi pertanian, dan aktivitas manusia yang semakin mendekati habitat alami kelelawar meningkatkan peluang terjadinya kontak antara manusia, hewan, dan virus. Kondisi ini membuat India dan beberapa wilayah Asia Selatan menjadi daerah dengan risiko wabah Nipah yang terus berulang.

Ketiadaan vaksin, gejala awal yang sering tidak spesifik, serta potensi penularan antarmanusia membuat virus Nipah sulit dikendalikan. Wabah yang terjadi di India menjadi pengingat bahwa ancaman kesehatan global tidak hanya berasal dari virus itu sendiri, tetapi juga dari cara manusia memperlakukan lingkungan dan berinteraksi dengan alam di sekitarnya.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE