Lirik Lagu "Peradaban" Dipakai untuk Serang Minoritas, Baskara Putra Buka Suara Keras

Lirik Lagu "Peradaban" Dipakai untuk Serang Minoritas, Baskara Putra Buka Suara Keras
- (Dok. Grid).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Musisi sekaligus penulis lagu Baskara Putra menyuarakan keberatannya setelah karyanya digunakan dalam konteks yang dinilai merendahkan kelompok minoritas. Melalui akun media sosial X pribadinya, ia secara tegas meminta agar lagu-lagunya tidak dipakai untuk menyerang pihak tertentu.

Pernyataan itu muncul setelah lagu "Peradaban" miliknya-yang dipopulerkan bersama Feast-dikaitkan dalam perdebatan di media sosial yang menyinggung isu queerfobia. Dalam unggahannya, Baskara menolak keras penggunaan karyanya untuk tujuan tersebut.

Kontroversi ini bermula dari unggahan akun X yang menyoroti masih adanya sikap anti terhadap kelompok queer di sejumlah komunitas alternatif. Istilah queerfobia sendiri merujuk pada sikap diskriminatif terhadap individu dengan orientasi seksual atau identitas gender di luar norma mayoritas.

Unggahan tersebut kemudian memicu perdebatan. Sejumlah pengguna memberikan dukungan, sementara lainnya melontarkan kritik. Dalam salah satu respons, seorang pengguna menyertakan tangkapan layar lagu "Peradaban", yang kemudian memicu reaksi dari Baskara.

Lagu tersebut sejatinya dikenal membawa pesan kuat tentang ketahanan, kemanusiaan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Liriknya menggambarkan bagaimana peradaban terus bertahan di tengah tekanan, konflik, hingga upaya penindasan. Pesan yang diusung cenderung mengarah pada nilai toleransi dan keberagaman.

Namun, penggunaan lagu itu dalam konteks perdebatan yang mengandung unsur diskriminasi dinilai bertolak belakang dengan makna aslinya. Hal inilah yang kemudian mendorong Baskara untuk angkat bicara secara terbuka.

Kasus ini kembali menyoroti bagaimana karya seni, khususnya musik, dapat mengalami pergeseran makna ketika digunakan di luar konteks yang dimaksud penciptanya. Di era media sosial, potongan lirik atau karya kerap diinterpretasikan ulang oleh publik dengan sudut pandang yang beragam.

Respons Baskara juga menjadi pengingat bahwa musisi memiliki posisi untuk menentukan batas atas penggunaan karya mereka, terutama jika berkaitan dengan isu sensitif seperti diskriminasi terhadap kelompok tertentu.

Perdebatan yang terjadi menunjukkan adanya polarisasi opini di ruang digital, sekaligus membuka diskusi lebih luas mengenai pemaknaan karya seni dan tanggung jawab dalam menggunakannya di ruang publik.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE