Lagu "My Little Bolu Ketan" Viral di TikTok, Psikiater Jelaskan Fenomena Lagu yang Terus Terngiang di Kepala
JAKARTA, GENVOICE.ID - Lagu viral "My Little Bolu Ketan" tengah ramai berseliweran di media sosial dan menjadi perbincangan warganet. Potongan liriknya banyak digunakan di TikTok hingga Instagram Reels, membuat lagu tersebut cepat melekat di kepala banyak orang.
Tidak hanya populer di kalangan anak muda, lagu yang turut menyebut nama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia itu juga mulai sering dinyanyikan anak-anak hingga orang dewasa. Banyak pengguna media sosial mengaku tanpa sadar terus mengulang bagian lagu tersebut di pikiran mereka sepanjang hari.
Fenomena lagu yang terus terngiang ini ternyata memiliki penjelasan psikologis. Psikiater RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, menyebut kondisi tersebut dikenal dengan istilah earworm atau Involuntary Musical Imagery (IMI).
Earworm merupakan kondisi ketika potongan lagu atau melodi terus muncul di kepala secara berulang tanpa disengaja. Menurut dr. Lahargo, fenomena tersebut sebenarnya tergolong normal dan sering dialami banyak orang, terutama di era media sosial saat ini.
Ia menjelaskan lagu-lagu viral biasanya memiliki pola sederhana, repetitif, mudah diingat, dan sering diputar ulang oleh algoritma platform digital. Kombinasi tersebut membuat otak lebih mudah menyimpan dan memunculkan kembali lagu secara otomatis.
"Lagu viral itu seperti tamu yang awalnya hanya mampir, tapi karena terus dibukakan pintu oleh algoritma, akhirnya menetap di kepala," jelas dr. Lahargo.
Menurutnya, dalam jangka pendek earworm umumnya tidak berbahaya. Bahkan pada sebagian orang, lagu yang terus terngiang justru bisa membantu memperbaiki suasana hati dan memberikan hiburan ringan.
Selain itu, tren lagu viral juga dapat menciptakan rasa kebersamaan karena banyak orang menikmati lagu yang sama dalam waktu bersamaan di media sosial.
Meski begitu, kondisi tersebut tetap bisa mengganggu bagi sebagian orang, terutama mereka yang sedang mengalami stres atau kesulitan berkonsentrasi. Lagu yang terus berputar di kepala dapat memengaruhi fokus hingga mengganggu waktu istirahat.
Dr. Lahargo menegaskan belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan earworm dapat menyebabkan gangguan mental jangka panjang pada individu sehat. Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan tetap perlu diperhatikan.
Menurutnya, paparan konten singkat yang terus berulang bisa membuat otak terbiasa mencari stimulasi cepat sehingga berpengaruh terhadap attention span atau rentang perhatian seseorang.
Untuk mengurangi efek earworm yang mengganggu, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah mendengarkan lagu tersebut sampai selesai agar otak mendapatkan rasa "tuntas".
Selain itu, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi seperti membaca buku atau mengisi teka-teki silang juga dapat membantu mengalihkan fokus pikiran dari lagu yang terus berulang.
Membatasi waktu scrolling media sosial juga dinilai penting untuk mengurangi paparan algoritma yang terus memunculkan lagu atau audio viral yang sama.
Fenomena "My Little Bolu Ketan" sendiri menjadi contoh bagaimana sebuah lagu sederhana dapat menyebar sangat cepat di era digital dan membentuk tren budaya populer dalam waktu singkat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!