AI Bantu Deteksi Lesi Otak Epilepsi yang Sulit Ditemukan Dokter

D
Daniel R
Penulis
Techno
AI Bantu Deteksi Lesi Otak Epilepsi yang Sulit Ditemukan Dokter
- (Dok. The Independent).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebuah alat kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan oleh peneliti di Inggris mampu mendeteksi dua pertiga lesi otak penyebab epilepsi yang sering tidak terlihat oleh dokter. Teknologi ini diharapkan dapat membantu diagnosis yang lebih cepat dan meningkatkan efektivitas operasi bagi penderita epilepsi dengan kejang yang sulit dikendalikan.

Di Inggris, sekitar 30 ribu orang mengalami epilepsi yang tidak dapat dikendalikan karena adanya kelainan otak yang terlalu halus untuk dideteksi melalui pemindaian standar. Kelainan ini, yang dikenal sebagai displasia kortikal fokal, merupakan salah satu penyebab utama epilepsi, terutama pada pasien yang tidak merespons pengobatan. Kejang yang dialami penderita dapat bervariasi, mulai dari gerakan tiba-tiba, tubuh menjadi kaku, hingga kehilangan kesadaran, dan sering kali memerlukan perawatan darurat.

Mengutip dari BBC, Selasa (25/2), tim peneliti dari King's College London dan University College London mengembangkan AI bernama MELD Graph untuk membantu menganalisis pemindaian MRI dari lebih dari 1.185 pasien di 23 rumah sakit di berbagai negara. Dari jumlah tersebut, 703 pasien diketahui memiliki kelainan otak yang sulit terdeteksi. AI ini mampu memproses gambar lebih cepat dan lebih detail dibandingkan dokter, memungkinkan diagnosis yang lebih akurat serta mengurangi kebutuhan akan pemeriksaan tambahan.

Namun, alat ini tetap memerlukan pengawasan manusia dan belum mampu menemukan semua lesi yang ada. Peneliti utama, Dr. Konrad Wagstyl, menjelaskan bahwa AI ini dapat menemukan sekitar dua pertiga kelainan yang sebelumnya terlewat oleh dokter, sementara sepertiga lainnya masih sulit untuk dideteksi. Salah satu kasus yang berhasil ditangani dengan AI ini terjadi di Italia, di mana MELD Graph berhasil mengidentifikasi lesi otak pada seorang anak berusia 12 tahun yang telah mencoba sembilan jenis obat tetapi tetap mengalami kejang setiap hari.

iklan gulaku

Prof. Helen Cross, seorang ahli epilepsi anak yang turut menulis penelitian ini, menyatakan bahwa alat tersebut memiliki potensi untuk membantu identifikasi kelainan otak dengan lebih cepat, sehingga dapat segera diatasi melalui operasi. Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengukur manfaat jangka panjangnya sebelum alat ini dapat digunakan secara luas di klinik.

Organisasi Epilepsy Action menyambut baik inovasi ini dan menilai bahwa AI dapat mempercepat diagnosis bagi banyak penderita epilepsi. Namun, mereka juga menyoroti masih adanya tantangan lain, seperti kurangnya tenaga medis spesialis epilepsi. Saat ini, para peneliti tengah mengupayakan persetujuan resmi agar MELD Graph dapat digunakan sebagai alat diagnostik, sambil tetap membuka aksesnya sebagai perangkat lunak open-source bagi rumah sakit di seluruh dunia untuk keperluan penelitian lebih lanjut.

  • Tag:
  • Techno
  • AI
  • kesehatan

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today
Contraflow Tol Japek Arah Jakarta Dihentikan Gegara Hal Ini
Rivaldi Dani Rahmadi