AI Bantu Deteksi Lesi Otak Epilepsi yang Sulit Ditemukan Dokter
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebuah alat kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan oleh peneliti di Inggris mampu mendeteksi dua pertiga lesi otak penyebab epilepsi yang sering tidak terlihat oleh dokter. Teknologi ini diharapkan dapat membantu diagnosis yang lebih cepat dan meningkatkan efektivitas operasi bagi penderita epilepsi dengan kejang yang sulit dikendalikan.
Di Inggris, sekitar 30 ribu orang mengalami epilepsi yang tidak dapat dikendalikan karena adanya kelainan otak yang terlalu halus untuk dideteksi melalui pemindaian standar. Kelainan ini, yang dikenal sebagai displasia kortikal fokal, merupakan salah satu penyebab utama epilepsi, terutama pada pasien yang tidak merespons pengobatan. Kejang yang dialami penderita dapat bervariasi, mulai dari gerakan tiba-tiba, tubuh menjadi kaku, hingga kehilangan kesadaran, dan sering kali memerlukan perawatan darurat.
Mengutip dari BBC, Selasa (25/2), tim peneliti dari King's College London dan University College London mengembangkan AI bernama MELD Graph untuk membantu menganalisis pemindaian MRI dari lebih dari 1.185 pasien di 23 rumah sakit di berbagai negara. Dari jumlah tersebut, 703 pasien diketahui memiliki kelainan otak yang sulit terdeteksi. AI ini mampu memproses gambar lebih cepat dan lebih detail dibandingkan dokter, memungkinkan diagnosis yang lebih akurat serta mengurangi kebutuhan akan pemeriksaan tambahan.
Namun, alat ini tetap memerlukan pengawasan manusia dan belum mampu menemukan semua lesi yang ada. Peneliti utama, Dr. Konrad Wagstyl, menjelaskan bahwa AI ini dapat menemukan sekitar dua pertiga kelainan yang sebelumnya terlewat oleh dokter, sementara sepertiga lainnya masih sulit untuk dideteksi. Salah satu kasus yang berhasil ditangani dengan AI ini terjadi di Italia, di mana MELD Graph berhasil mengidentifikasi lesi otak pada seorang anak berusia 12 tahun yang telah mencoba sembilan jenis obat tetapi tetap mengalami kejang setiap hari.
Prof. Helen Cross, seorang ahli epilepsi anak yang turut menulis penelitian ini, menyatakan bahwa alat tersebut memiliki potensi untuk membantu identifikasi kelainan otak dengan lebih cepat, sehingga dapat segera diatasi melalui operasi. Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengukur manfaat jangka panjangnya sebelum alat ini dapat digunakan secara luas di klinik.
Organisasi Epilepsy Action menyambut baik inovasi ini dan menilai bahwa AI dapat mempercepat diagnosis bagi banyak penderita epilepsi. Namun, mereka juga menyoroti masih adanya tantangan lain, seperti kurangnya tenaga medis spesialis epilepsi. Saat ini, para peneliti tengah mengupayakan persetujuan resmi agar MELD Graph dapat digunakan sebagai alat diagnostik, sambil tetap membuka aksesnya sebagai perangkat lunak open-source bagi rumah sakit di seluruh dunia untuk keperluan penelitian lebih lanjut.
0 Comments





- Presenter Conan O'Brien Sindir Skandal Film "Emilia Pérez" di Pembukaan Oscar
- 1.000 Musisi Rilis Album Tanpa Suara sebagai Protes terhadap Kebijakan Hak Cipta AI di Inggris
- Ferran Torres Jadi Penentu Kemenangan Barcelona atas Atlético Madrid
- Brand Sepatu Vans Gandeng Voice of Baceprot Jadi Global Brand Ambassador
- Paul Tazewell Jadi Desainer Kostum Berkulit Hitam Pertama yang Menang Best Costume Design di Oscar
- Volvo XC60 2026 Hadir dengan Pembaruan Desain dan Teknologi
- Denzel Washington Akui Dirinya Bukan Aktor Hollywood
- Rockstar Games Jadikan "GTA 6" Sebagai Platform Kreator Metaverse
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!