Pasar Padel di Swedia Turun, Bagaimana dengan Indonesia?

Pasar Padel di Swedia Turun, Bagaimana dengan Indonesia?
Ilustrasi permainan Padel. - (Dok. Unsplash).

JAKARTA, Genvoice.id - Padel sempat menjadi olahraga primadona di Swedia. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat pandemi, lapangan padel tumbuh bak jamur di musim hujan. Hampir di setiap kota besar, masyarakat bisa dengan mudah menemukan fasilitas ini. Namun kini, situasinya berbalik. Dari booming besar, pasar padel di Swedia justru mengalami penurunan signifikan.

Fenomena ini terlihat jelas dari banyaknya klub padel yang gulung tikar. Menurut laporan CreditSafe, hampir 90 operator padel di Swedia bangkrut pada 2023. Penyebabnya sederhana, yaitu terlalu banyak lapangan dibangun dalam waktu singkat, sementara permintaan tak mampu mengimbangi.

Saat pandemi, orang berbondong-bondong mencoba olahraga ini karena mudah dimainkan, sosial, dan bisa jadi alternatif hiburan. Tapi setelah kehidupan kembali normal, antusiasme menurun. Banyak orang kembali ke aktivitas atau olahraga yang dulu mereka jalani.

Selain itu, biaya operasional lapangan padel tak bisa dibilang murah. Pencahayaan, perawatan lapangan, hingga fasilitas pendukung menuntut biaya besar, apalagi di tengah inflasi global. Hasilnya, banyak pengelola yang tak mampu menutup biaya, sementara harga sewa lapangan tidak bisa terus dinaikkan.

Swedia pun menjadi semacam "contoh kasus" bahwa pertumbuhan terlalu cepat tanpa perhitungan matang bisa berujung pada krisis industri.

Berbeda dengan Swedia, di Indonesia padel justru sedang naik daun. Olahraga raket yang memadukan tenis dan squash ini mulai banyak digemari di kota-kota besar. Data PBPI (Persatuan Padel Indonesia) mencatat, hingga 2025 sudah ada lebih dari 130 lapangan padel permanen di Tanah Air.

Jakarta dan Bali menjadi pusat pertumbuhan terbesar, dengan operator besar seperti La Padel membangun kompleks olahraga modern lengkap dengan kafe, sauna, hingga area rekreasi.

Dari sisi bisnis, pasar padel di Indonesia juga terlihat menjanjikan. Klub-klub baru terus bermunculan, sementara turnamen skala komunitas hingga profesional mulai digelar. Pemerintah daerah pun mulai memberi perhatian, terutama dalam hal regulasi izin dan potensi kontribusi padel pada ekonomi olahraga nasional.

Namun, di balik tren positif ini, ada catatan penting. Indonesia perlu belajar dari Swedia. Pertumbuhan padel memang pesat, tapi bila tidak dikelola dengan hati-hati, risiko oversupply bisa terjadi. Biaya operasional yang tinggi juga bisa menjadi masalah, apalagi jika lapangan dibangun tanpa mempertimbangkan keberlanjutan permintaan.

F
Fahri Ramadhan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE