UGM Kritik Wacana Tutup Prodi Tak Relevan, Kampus Disebut Bukan Tempat Cetak Buruh Industri

UGM Kritik Wacana Tutup Prodi Tak Relevan, Kampus Disebut Bukan Tempat Cetak Buruh Industri
- (Dok. Universitas Gadjah Mada).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Rencana pemerintah untuk menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan ekonomi mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, menilai kebijakan tersebut berisiko mengabaikan tantangan masa depan pendidikan tinggi.

Menurut Wisnu, perguruan tinggi tidak semestinya diposisikan sebagai tempat pelatihan kerja tambahan yang hanya mengikuti permintaan industri. Ia menilai kampus memiliki peran lebih luas dalam membentuk individu yang mampu berpikir, beradaptasi, dan menciptakan solusi baru.

"Pendidikan tinggi bukanlah balai latihan kerja tambahan bagi industri. Menutup prodi hanya karena tidak sesuai dengan selera pasar hari ini adalah bentuk keputusan rabun jauh yang mengabaikan dinamika masa depan," kata Wisnu dalam keterangannya di Yogyakarta, Jumat.

Ia menjelaskan, universitas seharusnya menjadi institusi yang memberi arah bagi perkembangan peradaban, bukan sekadar mengikuti perubahan kebutuhan ekonomi yang terus bergerak.

Wisnu juga mengingatkan bahaya apabila relevansi pendidikan hanya diukur dari tuntutan pasar tenaga kerja saat ini. Menurutnya, pendekatan semacam itu justru bisa menghasilkan lulusan yang tidak siap menghadapi perubahan besar di masa mendatang.

"Jika kita terus memaksakan logika pasar sebagai satu-satunya ukuran relevansi, yang dihasilkan bukanlah generasi yang siap menghadapi masa depan, melainkan generasi yang dilatih untuk masa lalu," ujarnya.

Lebih jauh, ia menilai wacana penutupan program studi bukan sekadar persoalan ekonomi atau jumlah peminat. Kebijakan tersebut juga menyangkut fungsi sosial dan politik perguruan tinggi sebagai ruang lahirnya gagasan, kritik, dan refleksi masyarakat.

Menurut Wisnu, ketika fungsi itu melemah, kemampuan masyarakat untuk memahami sekaligus mengoreksi perubahan sosial juga ikut menurun. Bidang-bidang seperti kebudayaan, riset dasar, hingga pemikiran kritis pun berpotensi semakin tersisih apabila ukuran keberhasilan kampus hanya bertumpu pada serapan kerja jangka pendek.

Untuk mendukung pandangannya, Wisnu mengutip proyeksi dari McKinsey & Company yang memperkirakan sekitar 30 persen aktivitas pekerjaan global dapat mengalami otomatisasi pada 2030. Dalam situasi itu, keterampilan teknis yang sedang populer saat ini dinilai bisa cepat kehilangan relevansi.

Sebaliknya, kemampuan mendasar seperti berpikir kritis, analisis, komunikasi, serta pemahaman sosial disebut lebih tahan terhadap perubahan zaman. Data

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE