Sering Marah-Marah Bisa Bikin Imun Tubuh Melemah, Ini Penjelasan Dokter
Kemarahan yang berlangsung terus-menerus ternyata dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh, mulai dari memperlambat penyembuhan luka hingga menurunkan respons antibodi.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sering marah-marah ternyata bukan hanya berdampak pada hubungan dengan orang lain, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan tubuh. Jika berlangsung terus-menerus dan sulit dikendalikan, kemarahan berpotensi mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh atau imunitas.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, menjelaskan bahwa kondisi emosional memiliki kaitan dengan respons biologis tubuh. Dalam penjelasannya melalui akun X miliknya, ia mengungkapkan bahwa kemarahan dapat memicu perubahan pada zat-zat yang berperan dalam proses peradangan.
Meski begitu, dampak marah terhadap tubuh tidak selalu negatif. Efeknya bergantung pada durasi, intensitas, serta kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosinya.
Marah Sesaat Bisa Memicu Respons Imun
Menurut Adam Prabata, kemarahan dalam jangka pendek dapat meningkatkan sejumlah zat yang berkaitan dengan peradangan atau inflamasi. Beberapa di antaranya adalah interleukin-6 (IL-6), tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), dan C-reactive protein (CRP).
Peningkatan zat-zat tersebut merupakan bagian dari respons alami tubuh ketika menghadapi kondisi tertentu. Dalam situasi tertentu, respons ini justru membantu mempersiapkan sistem kekebalan tubuh untuk menghadapi ancaman.
"Marah dalam jangka pendek, memang bisa meningkatkan zat yang berperan dalam peradangan seperti IL-6, TNF-α, dan C-reactive protein. Nah tapi itu justru mempersiapkan sistem imun kita dan sebenernya bisa protektif," tulis Adam dalam unggahannya.
Dengan demikian, marah sesaat tidak serta-merta membuat daya tahan tubuh menurun. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika kemarahan muncul berulang kali, berlangsung lama, atau menjadi emosi yang sulit dikendalikan.
Kemarahan Berkepanjangan Bisa Melemahkan Imunitas
Berbeda dengan kemarahan sesaat, emosi negatif yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan. Kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan respons peradangan tubuh dan memengaruhi kinerja sistem kekebalan.
Adam menjelaskan bahwa kemarahan kronis dapat berkaitan dengan sejumlah gangguan pada fungsi tubuh. Dampaknya antara lain memperlambat proses penyembuhan luka, menurunkan respons antibodi, serta memperburuk penyakit yang berhubungan dengan peradangan.
"Namun marah terus terusan dalam jangka panjang atau tidak terkontrol justru bisa melemahkan penyembuhan luka, menurunkan respons antibodi, dan memperburuk penyakit inflamasi," lanjutnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan emosi juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan. Meski begitu, kemarahan bukan satu-satunya faktor yang menentukan kekuatan sistem imun karena daya tahan tubuh turut dipengaruhi berbagai aspek kesehatan lainnya.
Hubungan Kondisi Emosional dan Sistem Kekebalan Tubuh
Sistem kekebalan tubuh bekerja melalui berbagai mekanisme untuk melindungi tubuh dari infeksi dan membantu proses pemulihan ketika terjadi kerusakan jaringan. Proses tersebut melibatkan sel-sel imun, antibodi, serta zat kimia yang mengatur respons peradangan.
Ketika seseorang mengalami tekanan emosional berkepanjangan, berbagai proses biologis dalam tubuh dapat ikut terpengaruh. Karena itu, kondisi psikologis dan kesehatan fisik perlu diperhatikan secara bersamaan.
Mengelola kemarahan bukan berarti seseorang harus menekan semua emosi yang dirasakan. Sebaliknya, penting untuk mengenali pemicu emosi, memberi waktu untuk menenangkan diri, dan mencari cara yang lebih sehat untuk mengekspresikan perasaan.
Cara Mengendalikan Amarah untuk Menjaga Kesehatan
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mengendalikan kemarahan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah mengambil jeda ketika emosi mulai meningkat agar seseorang memiliki waktu untuk berpikir sebelum bereaksi.
Selain itu, latihan pernapasan, aktivitas fisik secara teratur, tidur yang cukup, dan menjaga pola makan seimbang dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan. Berbicara dengan orang yang dipercaya juga bisa membantu seseorang memahami penyebab kemarahannya dan menemukan cara menghadapi masalah.
Jika kemarahan sering muncul, sulit dikendalikan, atau mulai mengganggu aktivitas dan hubungan sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan kondisi fisik. Kemampuan mengelola emosi juga penting agar tubuh dan pikiran tetap berada dalam kondisi yang sehat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!