Pembatalan Bus Hingga Ancam Cabut Beasiswa, BEM UI Soroti Penggerusan Ruang Sipil Saat Demo

Dugaan Intimidasi Armada Bus dan Pembatalan Pesanan

Pembatalan Bus Hingga Ancam Cabut Beasiswa, BEM UI Soroti Penggerusan Ruang Sipil Saat Demo
Deretan angkot yang menjadi salah satu transportasi ribuan massa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) unjuk rasa kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. - (Dok. YouTube Kompas).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kendala transportasi mewarnai pergerakan ribuan massa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) saat hendak menggelar aksi di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.

Rencana pengangkutan massa aksi menggunakan 24 bus Kopaja yang telah disewa terpaksa batal total akibat dugaan intimidasi dari institusi tertentu terhadap para sopir, sehingga ratusan mahasiswa terpaksa beralih menggunakan angkutan kota (angkot) hingga dihadang aparat di tengah jalan.

Dugaan Intimidasi Armada Bus dan Pengadangan Massa Demo BEM UI di Jakarta

1. Dugaan Intimidasi Sopir Bus

Koordinator Lapangan BEM UI, Hafidz Hernanda, mengungkapkan bahwa sekitar 500 hingga 700 massa aksi terkendala keberangkatannya karena 24 bus Kopaja yang disewa mendadak membatalkan sewa secara sepihak. Para pengemudi diduga mendapatkan ancaman pemecatan dari pihak luar jika nekat menjemput mahasiswa, sehingga dipaksa membuat berbagai alasan untuk membatalkan pesanan.

2. Intimidasi Akademik dan Ancaman KIP-K

Selain kendala transportasi pada massa UI dan beberapa BEM kampus lain, Hafidz juga membeberkan adanya tekanan psikologis terhadap mahasiswa. Beberapa bentuk intimidasi yang dilaporkan mencakup ancaman pencabutan beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), ancaman penurunan dari jabatan organisasi, hingga framing bahwa aksi mahasiswa akan berujung anarkis.

3. Pengadangan oleh Aparat Keamanan

Karena pembatalan bus, massa akhirnya berangkat dari kampus FISIP UI menggunakan konvoi angkot sekitar pukul 12.15 WIB. Namun, rombongan dihentikan oleh aparat gabungan Polisi dan TNI di Jalan R.M. Margono Djojohadikoesoemo sekitar pukul 13.50 WIB. Aparat menahan angkot dan hanya mengizinkan mobil komando serta massa berjalan kaki (long march) menuju Bundaran HI. Pergerakan massa kembali tertahan di depan Gedung UOB Thamrin-Sudirman hingga sore hari.

4. Delapan Tuntutan Utama Aksi

Di tengah pengadangan, mahasiswa bertahan dengan menggelar orasi serta menyuarakan delapan tuntutan nasional:

  • Hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri.
  • Hentikan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
  • Wujudkan reforma agraria sejati.
  • Turunkan harga kebutuhan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM).
  • Evaluasi total Proyek Strategis Nasional (PSN) serta hentikan program MBG dan KDMP.
  • Hentikan pemusatan kekuasaan, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), dan kembalikan otonomi daerah.
  • Tetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatra dan Flores serta percepat pemulihan wilayah terdampak.
  • Hentikan tindakan represif dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta bubarkan Batalyon Penyangga Daerah Rawan (YON TP).

Rangkaian pembatasan moda transportasi hingga pengadangan fisik di jalan raya dinilai massa BEM UI sebagai bentuk penggerusan kebebasan berekspresi di negara demokrasi. Peristiwa ini memperlihatkan tantangan berat yang dihadapi gerakan mahasiswa era pasca-Reformasi dalam menyampaikan aspirasi masyarakat di ruang publik.

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE