6 Film Indonesia yang Bikin Sineas Tanah Air Diperhitungkan di Festival Dunia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Perfilman Indonesia semakin mendapat perhatian di panggung internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah film karya sineas Tanah Air berhasil masuk ke festival film bergengsi, meraih penghargaan, hingga mendapatkan kesempatan diputar di hadapan penonton dari berbagai negara.
Keberhasilan tersebut tidak hanya menunjukkan perkembangan industri film nasional, tetapi juga memperkenalkan beragam cerita dan budaya Indonesia kepada dunia. Beberapa film bahkan dapat disaksikan melalui layanan streaming setelah menyelesaikan perjalanan festivalnya.
Berikut enam film Indonesia yang berhasil mencuri perhatian di festival film internasional.
1. "Kucumbu Tubuh Indahku" (2018)
"Kucumbu Tubuh Indahku" karya Garin Nugroho menjadi salah satu film Indonesia yang mencatat perjalanan cukup panjang di festival internasional. Film ini meraih Bisato D'Oro Award dalam Venice Independent Film Critics 2018 dan Cultural Diversity Award di Asia Pacific Screen Awards 2018.
Film tersebut juga terpilih sebagai film terbaik dalam Festival des 3 Continents 2018. Di Indonesia, "Kucumbu Tubuh Indahku" sempat menuai kontroversi setelah muncul petisi yang menentang penayangannya.
Cerita film berpusat pada Juno, seorang penari Lengger yang ditinggalkan ayahnya. Ia kemudian bergabung dengan sanggar tari Lengger Lanang dan menjalani perjalanan untuk memahami serta menerima dirinya melalui seni tari tradisional Banyumas.
"Kucumbu Tubuh Indahku" mendapat klasifikasi usia 18+ dan dapat disaksikan melalui Netflix.
2. "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" (2021)
Film garapan Edwin yang diadaptasi dari novel karya Eka Kurniawan ini membawa pulang Golden Leopard, penghargaan tertinggi dalam Locarno Film Festival 2021.
"Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" juga menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam kompetisi Tokyo International Film Festival 2021.
Kisahnya mengikuti Ajo Kawir, seorang jagoan yang jatuh cinta kepada Iteung, perempuan tangguh yang juga memiliki kemampuan bertarung. Di balik keberaniannya, Ajo menyimpan persoalan disfungsi seksual yang telah dialaminya sejak lama.
Pertemuannya dengan Iteung kemudian membawa keduanya menjalani hubungan yang penuh persoalan dan konflik.
Film tersebut mendapat klasifikasi usia 17+ dan tersedia di Netflix.
3. "Before, Now & Then" (2022)
"Before, Now & Then" atau "Nana" karya Kamila Andini juga berhasil mencatat prestasi di festival film internasional. Film ini meraih Jury Prize dalam Festival Film Internasional Brussels 2022.
Laura Basuki yang memerankan karakter Ino turut mendapatkan Silver Bear untuk kategori Best Supporting Performance di Festival Film Internasional Berlin 2022.
Film berlatar Jawa Barat pada era 1960-an tersebut mengikuti kehidupan Nana yang diperankan Happy Salma. Ia kehilangan suaminya setelah konflik dan peperangan terjadi di wilayah tersebut.
Nana kemudian membangun kehidupan baru bersama Raden Darga. Namun, kehidupan rumah tangganya tetap diwarnai tekanan. Pertemuannya dengan Ino, perempuan dengan latar belakang yang berbeda, perlahan memberikan Nana ruang untuk menemukan kembali dirinya.
"Before, Now & Then" dapat disaksikan melalui Prime Video.
4. "Autobiography" (2022)
"Autobiography" menjadi debut film panjang Makbul Mubarak dan langsung mendapat perhatian dari sejumlah festival internasional.
Film tersebut meraih penghargaan Best Film kategori Asian New Director di Hainan International Film Festival 2022 serta FIPRESCI Prize di Festival Film Venesia 2022.
Cerita berpusat pada Rakib, diperankan Kevin Ardilova, seorang pemuda yang bekerja sebagai penjaga rumah kosong milik Purna, karakter yang dimainkan Arswendy Bening Swara.
Purna merupakan seorang purnawirawan yang kembali ke kampung halamannya untuk mencalonkan diri sebagai bupati. Rakib kemudian membantu berbagai kebutuhan Purna, mulai dari menjadi sopir hingga terlibat dalam kegiatan kampanye.
Namun, sebuah kejadian membuat Rakib mulai mempertanyakan sosok Purna yang selama ini dihormatinya. Film ini mendapat klasifikasi usia 17+ dan dapat ditonton melalui Prime Video.
5. "Pangku" (2025)
"Pangku" menandai debut Reza Rahadian sebagai sutradara film panjang. Karya tersebut mendapat perhatian dalam Busan International Film Festival 2025 dan berhasil membawa pulang empat penghargaan, termasuk KB Vision Audience Award dan FIPRESCI Award.
Film ini mengikuti perjalanan Sartika, diperankan Claresta Taufan, seorang perempuan muda yang sedang mengandung. Ia meninggalkan kota asalnya demi mencari kehidupan yang lebih baik bagi calon anaknya.
Dalam perjalanan, Sartika bertemu Bu Maya, pemilik kedai kopi yang diperankan Christine Hakim. Bu Maya membantu Sartika hingga melahirkan, tetapi kebaikan tersebut ternyata memiliki maksud lain.
Sartika kemudian dijebak untuk bekerja sebagai pelayan di kedai kopi pangku milik Bu Maya. "Pangku" mendapat klasifikasi usia 17+ dan dapat disaksikan melalui Netflix.
6. "Empat Musim Pertiwi" (2026)
Perjalanan film Indonesia di festival internasional berlanjut pada 2026 melalui "Empat Musim Pertiwi" atau "Four Seasons in Java" karya Kamila Andini.
Film tersebut dijadwalkan menjalani pemutaran perdana dunia dalam Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 yang berlangsung pada 10-20 September 2026 di Kanada.
"Empat Musim Pertiwi" terpilih dalam program Centrepiece, yang menghadirkan film-film pilihan dari berbagai negara dengan beragam cerita dan perspektif dari sineas internasional.
Film ini dibintangi sejumlah aktor Indonesia, termasuk Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, dan Hana Pitrashata Malasan. Kehadiran "Empat Musim Pertiwi" di TIFF juga menjadi momen kembalinya Kamila Andini ke festival tersebut setelah sebelumnya meraih Platform Prize pada 2021 melalui "Yuni".
Film ini turut melibatkan sejumlah sineas yang sebelumnya bekerja sama dalam serial "Gadis Kretek". Ifa Isfansyah bertindak sebagai produser, Batara Goempar, I.C.S. menangani sinematografi, Dita Gambiro sebagai desainer produksi, Hagai Pakan sebagai penata busana, Astrid Sambudiono sebagai penata rias, dan Akhmad Fesdi Anggoro sebagai editor.
Rangkaian prestasi tersebut menunjukkan semakin luasnya ruang bagi film Indonesia untuk dikenal di festival internasional. Dari film yang telah membawa pulang penghargaan hingga karya yang baru akan menjalani pemutaran perdana dunia, perfilman Tanah Air terus menghadirkan cerita yang mampu menarik perhatian di panggung global.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!