Israel Serang Kementerian Pertahanan Suriah, Konflik Makin Memanas

Israel Serang Kementerian Pertahanan Suriah, Konflik Makin Memanas
- (Dok. CNN).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Militer Israel meluncurkan serangan ke Kementerian Pertahanan Suriah di Damaskus pada Rabu (16/7), menandai hari ketiga berturut-turut serangan udara terhadap militer Suriah. Serangan ini menghancurkan empat lantai gedung kementerian dan menyebabkan satu orang tewas serta 18 lainnya terluka, menurut keterangan pejabat Suriah.

Ini adalah serangan pertama Israel ke Damaskus sejak Mei lalu. Juru bicara militer Israel menyebutkan bahwa serangan ke kementerian tersebut merupakan pesan langsung kepada Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, terkait konflik di Sweida.

Konflik ini bermula dari bentrokan antara pasukan pemerintah Suriah dan kelompok pejuang Druze di wilayah selatan. Israel menegaskan tidak akan membiarkan militer Suriah hadir di selatan negara itu dan menyatakan niatnya untuk melindungi komunitas Druze dari tekanan pemerintah Damaskus. Namun, banyak warga Druze menolak diklaim sebagai pihak yang "dilindungi" oleh Israel karena takut dicap sebagai antek asing.

Konflik tiga arah antara militer Suriah, suku Arab Badui, dan milisi Druze kini telah menewaskan lebih dari 250 orang hanya dalam empat hari, menurut laporan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris.

Pada hari Rabu, pemerintah Suriah dan salah satu pemimpin spiritual komunitas Druze mengumumkan gencatan senjata. Namun, masih belum jelas apakah perjanjian tersebut akan bertahan, karena tokoh penting lain, Sheikh Hikmat al-Hijri, menolak berhenti berperang dan menyebut pemerintah sebagai "geng bersenjata".

Gencatan senjata sebelumnya yang diumumkan pada Selasa juga gagal.

Menurut laporan Reuters, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan pertemuan pada Kamis (17/7) untuk membahas situasi ini.

Bentrokan terbaru ini telah memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik sektarian yang lebih luas, mengingat banyaknya korban dari kelompok minoritas Alawite akibat serangan sebelumnya. Kekerasan ini menjadi tantangan terbesar bagi kekuasaan Damaskus sejak tragedi pembantaian massal di wilayah pesisir.

Komunitas Druze di Provinsi Sweida telah lama menuntut otonomi setelah kejatuhan rezim Bashar al-Assad, tetapi hingga kini belum ada kesepakatan konkret dengan pemerintahan baru di Damaskus.

Bentrokan terbaru dipicu oleh perampokan terhadap seorang pria Druze oleh anggota suku Badui di jalan utama selatan Damaskus, yang memicu aksi balas dendam dari kedua belah pihak. Beberapa milisi Druze kemudian bersumpah akan menolak kehadiran militer Suriah di Sweida, bahkan melakukan serangan terhadap pasukan pemerintah.

Laporan pelanggaran HAM mulai bermunculan setelah pasukan pemerintah memasuki Sweida. Pada Selasa siang, pria bersenjata menyerang sebuah aula keluarga Radwan dan menewaskan 16 orang tak bersenjata, termasuk satu wanita. SOHR melaporkan jumlah korban tewas sebanyak 12 orang.

Maan Radwan, warga London yang kehilangan sembilan kerabatnya, menyebut kejadian itu sangat memilukan. Menurutnya, aula tersebut bukan fasilitas militer dan tidak ada senjata di dalamnya.

Beberapa warga menyatakan bahwa pasukan pemerintah melarang ambulans memasuki lokasi kejadian, menyebabkan korban luka tidak tertolong. Belum jelas siapa pelaku kekerasan tersebut karena banyaknya pihak bersenjata yang terlibat, dari tentara, milisi, hingga kelompok suku.

Dua anggota pasukan pemerintah bahkan memposting ujaran kebencian sektarian terhadap komunitas Druze di media sosial mereka. Salah satunya bahkan merekam dirinya sambil membawa parang dan merobek foto pemimpin spiritual Druze.

Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan bahwa mereka tetap berpegang pada aturan keterlibatan militer dan berupaya melindungi warga sipil. Namun, warga Sweida mengaku terjebak di rumah tanpa listrik dan pasokan kebutuhan dasar.

Kemarahan juga meluas ke komunitas Druze di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel. Beberapa warga sempat menyeberang ke Suriah sebelum akhirnya dijemput kembali oleh militer Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memperingatkan warganya agar tidak menyeberang ke Suriah karena risiko besar yang mengancam, termasuk kemungkinan dibunuh atau disandera.

Sebelum konflik terbaru ini, hubungan antara Israel dan Suriah sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan, termasuk diskusi keamanan bersama. Namun, serangan Israel sejak kejatuhan Assad terus berlanjut di wilayah selatan Suriah, di mana mereka juga masih menduduki sebagian besar wilayah.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE