Investigasi terbaru Al Jazeera memunculkan sorotan serius terhadap dugaan penggunaan amunisi termal dan termobarik dalam operasi militer Israel di Gaza, Palestina. Laporan yang dirilis awal Februari 2026 itu menyebut senjata tersebut diduga mampu menghasilkan suhu ekstrem, diklaim melebihi 3.500 derajat Celcius.
Menurut Al Jazeera, efek panas yang sangat tinggi disebut tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memicu kehancuran biologis yang parah pada korban. Laporan itu turut menyinggung dugaan pasokan amunisi dari Amerika Serikat.
Dampak kehancuran digambarkan melalui data forensik tim Pertahanan Sipil Gaza. Mereka mencatat sedikitnya 2.842 warga Palestina dilaporkan hilang tanpa ditemukannya jasad utuh sejak konflik pecah pada Oktober 2023.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menjelaskan metode pendataan yang dilakukan timnya. Petugas, kata dia, mencocokkan jumlah penghuni rumah yang menjadi sasaran serangan dengan jumlah jenazah yang berhasil ditemukan di lokasi.
Jika terdapat selisih antara jumlah korban yang dilaporkan keluarga dan jasad yang ditemukan setelah pencarian menyeluruh, korban tersebut kemudian dikategorikan sebagai hilang.
Salah satu peristiwa yang disorot dalam laporan terjadi pada 10 Agustus 2024 di Sekolah al-Tabin, Gaza City. Seorang warga, Yasmin Mahani, menceritakan pencariannya terhadap putranya, Saad, di tengah reruntuhan pascaserangan. Ia menyatakan tidak menemukan jejak ataupun bagian tubuh anaknya.
Investigasi tersebut juga mengulas mekanisme kerja bom termobarik, yang dikenal sebagai bom vakum. Senjata ini bekerja dengan menyebarkan awan bahan bakar sebelum ledakan utama terjadi, menciptakan gelombang panas dan tekanan sangat tinggi. Kombinasi suhu ekstrem dan efek tekanan diyakini berkontribusi terhadap tingkat kerusakan struktural dan dampak fatal pada korban.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Munir Al Bursh, dalam laporan itu menjelaskan bahwa paparan energi panas ekstrem dapat menyebabkan cairan tubuh mendidih dan jaringan mengalami kerusakan sangat cepat.
Al Jazeera mengidentifikasi beberapa jenis amunisi buatan AS yang diduga digunakan di Gaza, termasuk MK-84, BLU-109 dengan hulu ledak PBXN-109, serta bom luncur presisi GBU-39.
Temuan ini memicu kekhawatiran baru terkait penggunaan senjata berdaya hancur tinggi di wilayah dengan kepadatan penduduk yang sangat besar.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Israel terkait isi investigasi tersebut.
Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut memberikan respons. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan kecaman keras atas dugaan dampak serangan terhadap warga sipil.
Sudarnoto menegaskan bahwa apabila temuan tersebut benar, maka hal itu dinilai melampaui batas kemanusiaan. Ia juga mendorong agar setiap dugaan kejahatan perang diusut secara independen, transparan, dan sesuai hukum internasional.
Menurutnya, komunitas internasional tidak boleh bersikap pasif dan harus mengedepankan prinsip keadilan tanpa standar ganda.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!