Tradisi Unik Bondowoso: Alumni Mahfilud Duror Sudah Mulai Puasa Lebih Awal
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sejumlah warga di Bondowoso telah lebih dulu menjalankan ibadah puasa Ramadan 1447 H pada Selasa, 17 Februari 2026. Mereka merupakan jamaah dan alumni Pondok Pesantren Mahfilud Duror yang memiliki tradisi turun-temurun menetapkan awal puasa lebih awal dibanding pemerintah.
Salah satunya disampaikan Ustaz Hilmi, warga Kecamatan Maesan. Ia mengaku bersama keluarganya sudah melaksanakan salat tarawih sejak Senin malam dan langsung memulai puasa keesokan harinya.
Menurutnya, tradisi ini bukan hal baru. Banyak alumni Mahfilud Duror di wilayah selatan Maesan yang juga memulai puasa di hari yang sama. Kebiasaan tersebut sudah berlangsung lama dan tetap dipertahankan oleh para jamaah hingga kini.
Berbeda dengan metode penetapan awal Ramadan yang umum digunakan di Indonesia, jamaah Mahfilud Duror tidak mengandalkan rukyatul hilal maupun hisab. Mereka menggunakan sistem perhitungan tersendiri yang dikenal sebagai metode khumasi.
Khumasi berasal dari kata "lima" dan merujuk pada perhitungan awal Ramadan berdasarkan selisih lima hari dari tahun sebelumnya. Dengan metode ini, awal Ramadan tahun berikutnya sudah bisa diprediksi sejak jauh hari.
Hilmi menjelaskan, jika Ramadan tahun ini jatuh pada Selasa, maka awal Ramadan tahun depan dihitung lima hari setelahnya. Pola ini terus berulang dan menjadi pedoman komunitas tersebut dalam menentukan awal ibadah puasa.
Tradisi khumasi merujuk pada kitab "Nushatul Majaalis" karya Syekh Abdurrahman As Shufuri As Syafi'i. Menurut para jamaah, metode ini telah digunakan selama hampir dua abad dan diwariskan lintas generasi.
Ciri lain dari sistem ini adalah durasi puasa yang selalu genap 30 hari. Karena itu, Hari Raya Idulfitri versi jamaah Mahfilud Duror biasanya jatuh lebih awal dibandingkan keputusan pemerintah, meski dalam beberapa tahun bisa saja bertepatan.
Meski terdapat perbedaan awal puasa, masyarakat setempat menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Hilmi menyebut warga di Bondowoso sudah terbiasa dengan perbedaan tersebut dan tetap menjaga sikap saling menghormati.
Ia menegaskan bahwa perbedaan metode penentuan Ramadan tidak menimbulkan konflik sosial. Justru, tradisi yang telah berjalan puluhan tahun itu dianggap sebagai bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga oleh komunitas alumni Mahfilud Duror.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!