Demo Berkepanjangan di Iran Telan Ribuan Korban, Data Pemerintah dan Lembaga HAM Bertolak Belakang

Demo Berkepanjangan di Iran Telan Ribuan Korban, Data Pemerintah dan Lembaga HAM Bertolak Belakang
- (Dok. BBC International).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gelombang demonstrasi yang melanda Iran sejak akhir Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026 memakan korban jiwa dalam jumlah besar.

Aksi protes yang awalnya berlangsung damai di sejumlah kota berubah menjadi kerusuhan, memicu bentrokan antara massa dan aparat keamanan di berbagai wilayah.

Berbagai lembaga hak asasi manusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hingga pemerintah Iran menyampaikan angka korban tewas yang berbeda-beda. Perbedaan data ini muncul di tengah situasi yang sulit diverifikasi akibat pembatasan informasi dan pemadaman internet di sejumlah wilayah Iran.

Organisasi HAM yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHR), melaporkan jumlah korban tewas mencapai 3.428 orang. Angka tersebut diperoleh melalui pengumpulan data dari Kementerian Kesehatan Iran pada periode 8-12 Januari 2026, serta berbagai sumber independen di dalam negeri. IHR menegaskan jumlah korban kemungkinan lebih tinggi karena keterbatasan akses informasi.

Sementara itu, kelompok Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) mencatat setidaknya 2.677 kematian yang telah terkonfirmasi. Selain itu, terdapat 1.693 kasus kematian lain yang masih dalam tahap investigasi, sehingga angka final diperkirakan bisa bertambah.

Di sisi lain, pemerintah Iran membantah laporan lembaga HAM internasional tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut jumlah korban tewas hanya mencapai "ratusan orang". Dalam wawancara dengan media asing, Araghchi menuding laporan kelompok HAM di luar Iran sebagai klaim yang dilebih-lebihkan dan sarat kepentingan politik. Pemerintah Iran juga mengakui adanya korban dari pihak aparat keamanan, meski menyebut jumlahnya masih dalam proses pendataan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi di Iran. Kepala Komisioner Tinggi HAM PBB (OHCHR), Volker Turk, mengaku terkejut dengan eskalasi kekerasan terhadap para demonstran. Menurutnya, banyak laporan menyebutkan ratusan orang kemungkinan tewas, bahkan jumlahnya bisa lebih besar dari data yang saat ini diterima PBB.

Juru bicara OHCHR di Jenewa menyatakan pihaknya menerima laporan dari IHR dan organisasi HAM lainnya, namun menilai angka korban bisa jauh lebih tinggi. PBB menyoroti adanya peningkatan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah protes di Iran.

Hingga kini, demonstrasi di Iran masih menyisakan ketegangan. Perbedaan data korban tewas antara pemerintah dan lembaga internasional terus menjadi sorotan, sekaligus menegaskan sulitnya mendapatkan gambaran utuh mengenai dampak kemanusiaan dari krisis politik dan sosial yang tengah berlangsung di negara tersebut.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE