AS-Iran Sepakat Buka Hormuz, Harga Minyak Dunia Turun
JAKARTA, GENVOICE.ID - Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan setelah muncul kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai yang membuka jalan bagi normalisasi aktivitas di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Pada Senin (15/6), harga minyak mentah Brent turun sekitar 4,3 persen ke level US$83,55 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat tercatat melemah 4,9 persen menjadi US$80,74 per barel.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang disebut berperan sebagai mediator dalam proses perundingan, mengungkapkan bahwa penandatanganan resmi kesepakatan akan dilakukan di Swiss pada 19 Juni mendatang.
Dari pihak Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan AS telah diselesaikan. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyambut perkembangan tersebut melalui unggahan di media sosial dengan pesan singkat yang menekankan pentingnya kelancaran pasokan energi global.
Harga Minyak Sempat Melonjak Saat Konflik
Pasar energi dunia mengalami gejolak besar sejak pecahnya konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu. Ketegangan meningkat setelah Selat Hormuz ditutup, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Selat Hormuz memiliki peran strategis karena menjadi jalur transit sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia serta gas alam cair (LNG). Ancaman gangguan distribusi dari kawasan tersebut membuat harga minyak melonjak tajam.
Sebelum konflik berlangsung, harga minyak Brent berada di kisaran US$70 per barel. Namun selama perang, harganya sempat menembus sekitar US$120 per barel akibat kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi.
Pemulihan Pasokan Belum Bisa Instan
Meski pasar merespons positif kabar perdamaian, sejumlah analis menilai kondisi belum akan langsung kembali normal dalam waktu dekat.
Analis pasar energi dari Vanda Insights, Vandana Hari, menilai minimnya rincian mengenai isi kesepakatan masih dapat memicu ketidakpastian di kalangan pelaku pasar. Situasi tersebut berpotensi membuat harga minyak tetap bergerak fluktuatif hingga proses penandatanganan resmi selesai.
Selain itu, proses pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan membutuhkan waktu. Sejumlah pakar menyebut jalur tersebut masih perlu dibersihkan dari berbagai hambatan yang muncul selama konflik berlangsung.
Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates memperkirakan normalisasi distribusi minyak dapat memakan waktu beberapa pekan hingga beberapa bulan. Selain pembersihan jalur pelayaran, terdapat antrean kapal tanker serta kebutuhan untuk mengembalikan produksi minyak ke tingkat sebelum perang.
Pandangan serupa disampaikan mantan perwira Angkatan Laut AS, Mark Montgomery. Menurutnya, aktivitas pengiriman energi melalui Selat Hormuz tidak akan langsung pulih hanya dalam hitungan hari.
Bursa Asia Menguat
Kabar tercapainya kesepakatan damai turut memberikan sentimen positif bagi pasar saham Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat sekitar 4,7 persen, sementara indeks Kospi Korea Selatan naik lebih dari 5 persen.
Negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara menjadi pihak yang paling memperhatikan perkembangan ini karena kawasan tersebut sangat bergantung pada pasokan minyak dan LNG dari Timur Tengah. Penurunan harga energi dinilai dapat membantu meredakan tekanan biaya impor yang meningkat selama konflik berlangsung.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!