Harga Minyak Dunia Melonjak, Pakar Ingatkan Dunia Usaha Waspadai Risiko Energi Global
JAKARTA, GENVOCIE.ID - Ketidakpastian pasokan energi global kembali menjadi sorotan. Pakar dari Prasasti Center for Policy Studies mengingatkan pelaku usaha di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah lonjakan harga minyak dunia dan dinamika geopolitik yang terus berkembang.
Pakar energi sekaligus Board of Experts Prasasti, Arcandra Tahar, menegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki kendali besar dalam menentukan harga minyak. Menurutnya, harga energi domestik tetap mengacu pada mekanisme pasar global, baik untuk produksi dalam negeri maupun impor.
Kondisi ini semakin menantang karena harga minyak saat ini berada di kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi dalam APBN 2026 yang dipatok sekitar 70 dolar AS per barel. Selisih tersebut mencerminkan tekanan eksternal yang meningkat akibat ketegangan geopolitik dan keterbatasan pasokan energi global.
Di sisi kebijakan, pemerintah sebelumnya menyatakan belum ada keputusan terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), baik subsidi maupun nonsubsidi. Pembahasan masih berlangsung bersama Pertamina dan penyedia BBM lainnya.
Namun, situasi ini menempatkan pemerintah pada dilema. Jika harga BBM ditahan, beban subsidi berpotensi membengkak dan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sebaliknya, jika disesuaikan dengan harga pasar, dampaknya bisa langsung terasa melalui kenaikan inflasi dan penurunan daya beli masyarakat.
Board of Experts Prasasti lainnya, Halim Alamsyah, memperkirakan bahwa dalam skenario harga minyak menyentuh 100 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah melemah hingga sekitar Rp17.000 per dolar AS, defisit fiskal Indonesia bisa melebar hingga 3,3-3,5 persen dari Produk Domestik Bruto. Angka tersebut melampaui batas defisit 3 persen yang selama ini dijaga pemerintah.
Selain itu, penyesuaian harga BBM juga berpotensi mendorong inflasi sebesar 0,7 hingga 1,8 poin persentase. Jika tekanan berlanjut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat ke kisaran 4,7-4,9 persen, lebih rendah dari tren rata-rata beberapa tahun terakhir yang berada di sekitar 5 persen.
Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai kebijakan pemerintah saat ini masih difokuskan pada menjaga daya beli masyarakat dengan menahan kenaikan harga BBM. Namun, keberlanjutan strategi tersebut sangat bergantung pada pergerakan harga minyak global.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antarotoritas ekonomi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan. Peran Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Kementerian Keuangan dinilai krusial dalam menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah tekanan global.
Prasasti turut mengingatkan bahwa gangguan pasokan energi dan bahan baku akibat eskalasi geopolitik dapat berdampak langsung pada sektor industri. Kenaikan biaya produksi berpotensi menekan produktivitas manufaktur, sehingga diperlukan langkah kebijakan untuk menjaga efisiensi dan daya saing, termasuk memastikan ketersediaan energi bagi industri.
Dengan berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan, pelaku usaha diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta mulai mengantisipasi kemungkinan perubahan kebijakan energi dalam waktu dekat.
0 Comments
- Jadwal Lengkap 32 Besar Piala Dunia 2026 29 Juni - 4 Juli: Brasil, Argentina, Inggris hingga Portugal Berebut Tiket 16 B...
- Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid Pilih Rahasiakan Wajah Anak, Minta Publik Menghargai Keputusan
- Matty Cash Bikin Manchester City Gigit Jari, Aston Villa Lanjutkan Tren Positif di Premier League
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!