Spesifikasi Kapal Virgo KM Virgo Transport 8 yang Menelan Puluhan Korban
JAKARTA, GENVOICE.ID - Tragedi kemiringan dan hilang kontak yang menimpa KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa terus menyedot perhatian publik.
Kapal Roro Penumpang rute Surabaya-Banjarmasin yang membawa total 243 orang tersebut dipastikan belum tenggelam dan ditemukan mengapung dalam posisi miring di sekitar perairan Masalembo. Di tengah upaya penyelamatan yang menegangkan, riwayat panjang serta spesifikasi teknis armada tua ini pun mendadak jadi sorotan utama.
Usut punya usut, kapal berukuran 4.277 GT ini merupakan kapal tua yang telah berlayar selama hampir empat dekade. Berdasarkan data VesselFinder dengan nomor IMO 8625179, kapal ini pertama kali dibuat pada tahun 1987 di galangan Kurushima Dockyard, Onishi, Jepang. Sebelum berganti identitas menjadi Virgo Transport 8, kapal sepanjang 119 meter dan lebar 21 meter ini sangat terkenal di negeri sakura dengan nama Ferry Kurushima, melayani rute Matsuyama-Kokura di bawah naungan Kansai Kisen dan Matsuyama Kokura Ferry dengan kapasitas awal hingga 756 penumpang.
Perjalanan kapal ini menuju perairan Indonesia terbilang cukup panjang. Setelah purna tugas di Jepang, kapal sempat menggunakan bendera Mongolia pada Juni 2025 sebelum akhirnya berganti bendera menjadi Indonesia pada April 2026. Dengan mengusung mesin diesel berdaya 11.200 PS yang mampu dipacu hingga kecepatan maksimum 21,6 knot, kapal tua ini resmi melayani rute komersial Surabaya-Banjarmasin di bawah PT Virgo Karya Shipping sebelum akhirnya mengalami insiden miring saat dihantam cuaca buruk pada Minggu dini hari.
Di tengah laut, proses evakuasi berlangsung secara dramatis dengan melibatkan sinergi jalur laut dan udara. Basarnas bahkan menerjunkan helikopter penolong yang bertolak dari Surabaya via Banjarbaru untuk menyisir perairan Masalembo dari udara. Langkah ini memperkuat armada laut seperti KN SAR Laksamana, KRI Nala, serta bantuan kapal-kapal melintas seperti TB TCP, MV Haida, dan TB Mauhaw IX. Berdasarkan pembaruan data hingga Minggu siang, sebanyak 103 hingga 143 penumpang berhasil dievakuasi, di mana enam orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Para korban selamat dilarikan ke beberapa lokasi pelabuhan penampungan, seperti Pelabuhan Tuban di Jawa Timur serta Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin. Suasana haru dan kepanikan tak terhindarkan di posko-posko pengaduan darat, tempat di mana pihak keluarga korban berkumpul menanti kabar kepastian. Salah satunya adalah Fredy, warga Mojokerto yang rela memboyong keluarganya ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya demi mencari keberadaan adiknya, Steviansyah, seorang pemusik keyboard kapal yang hingga kini belum bisa dihubungi.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih terus memaksimalkan penyisiran untuk mencari sisa penumpang yang belum terevakuasi sesuai data manifes. Di sisi lain, otoritas keselamatan maritim bersama pihak kepolisian terus melakukan investigasi mendalam untuk memastikan apakah faktor cuaca ekstrem, kelayakan teknis mesin armada yang berusia 39 tahun, atau kendala operasional yang menjadi pemicu utama musibah ini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!