Debat Memanas di Acara "Rakyat Bersatu", Abu Janda Diusir Setelah Melontarkan Makian
JAKARTA, GENVOICE.ID - Perdebatan sengit terjadi dalam program televisi "Rakyat Bersatu" yang disiarkan oleh iNews TV pada Selasa malam, 10 Maret 2026. Insiden tersebut melibatkan pegiat media sosial Permadi Arya yang dikenal dengan nama Abu Janda, bersama sejumlah narasumber lain dalam diskusi mengenai konflik internasional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Palestina.
Ketegangan bermula ketika Permadi Arya menyampaikan pandangannya mengenai sentimen anti-Amerika yang menurutnya cukup kuat di kalangan masyarakat Indonesia. Ia berpendapat bahwa sebagian sikap tersebut muncul tanpa dasar yang jelas.
Dalam argumennya, Permadi juga menyinggung peran Amerika Serikat dalam sejarah Indonesia, khususnya terkait tekanan internasional yang memengaruhi situasi setelah proklamasi kemerdekaan pada 1945.
Diskusi kemudian berlanjut ketika mantan duta besar Indonesia untuk Tunisia, Ikrar Nusa Bhakti, mencoba memberikan tanggapan. Ia merujuk pada buku "Nationalism and Revolution in Indonesia" karya George McTurnan Kahin yang membahas keterlibatan Amerika Serikat dalam dinamika politik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Menurut Ikrar, campur tangan Amerika pada masa itu tidak lepas dari kekhawatiran geopolitik, termasuk potensi pengaruh komunisme di kawasan Asia Tenggara. Ia juga mengingatkan agar peran Amerika tidak dilihat secara sepihak sebagai bentuk dukungan tanpa kepentingan tertentu.
Namun, suasana diskusi menjadi semakin panas ketika Permadi beberapa kali memotong pembicaraan narasumber lain. Ia bahkan sempat melontarkan kata-kata kasar saat menyampaikan pandangannya, sehingga moderator acara, Aiman Witjaksono, memberikan peringatan.
Perdebatan kemudian berlanjut antara Permadi Arya dan pakar hukum tata negara Feri Amsari. Dalam diskusi tersebut, Feri menyinggung keputusan Presiden Indonesia Prabowo Subianto yang disebut bergabung dalam Board of Peace (BOP), sebuah forum yang dikaitkan dengan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Feri menilai langkah tersebut menimbulkan perdebatan etis, terutama karena forum itu disebut melibatkan Israel di tengah konflik yang terus berlangsung di Palestina. Ia juga mengingatkan sejarah hubungan antara Indonesia dan Palestina, termasuk dukungan moral maupun diplomatik pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Ia bahkan menyinggung peran tokoh Palestina, Muhammad Ali Taher, yang disebut pernah memberikan dukungan finansial bagi perjuangan diplomasi Indonesia melalui tokoh pergerakan Agus Salim.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Permadi Arya. Ia menolak pandangan tersebut dan menyebutnya sebagai informasi yang tidak benar. Suasana debat pun semakin memanas hingga akhirnya ia diminta meninggalkan forum diskusi.
Potongan video perdebatan tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan menjadi perbincangan publik. Hingga kini, tayangan itu masih memicu beragam tanggapan dari warganet terkait dinamika diskusi dan etika dalam debat publik.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!