Toto Wolff Ungkap Penyesalan Tangani Rivalitas Hamilton-Rosberg, McLaren Jadi Sorotan

Toto Wolff Ungkap Penyesalan Tangani Rivalitas Hamilton-Rosberg, McLaren Jadi Sorotan
- (Dok. GPblog).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Toto Wolff akhirnya mengakui masih menyimpan penyesalan atas cara dirinya mengelola rivalitas panas antara Lewis Hamilton dan Nico Rosberg di Mercedes. Persaingan kedua pembalap berlangsung ketat selama tiga musim berturut-turut di awal era mesin hibrida V6 Formula 1.

Hamilton mendominasi dengan merebut gelar dunia pada 2014 dan 2015, namun Rosberg berhasil membalas dengan merebut trofi pada 2016 sebelum secara mengejutkan pensiun beberapa hari setelah balapan terakhir di Abu Dhabi. Momen tersebut kini kembali jadi perbincangan seiring keputusan kontroversial McLaren terkait Oscar Piastri dan Lando Norris di GP Italia.

Jurnalis Brasil Julianne Cerasoli dalam podcast F1 Nation mengungkap bahwa Wolff menyesali keterlibatan langsungnya dalam konflik antara Hamilton dan Rosberg. Menurutnya, Mercedes saat itu mencoba menerapkan banyak aturan internal untuk mencegah bentrokan, namun justru gagal mengantisipasi semua kemungkinan.

"Dia terlalu terlibat dalam pertarungan di antara dua pembalap, dan itu salah satu penyesalan terbesarnya," ujar Cerasoli. "Mereka berusaha menutup semua skenario, tapi pada akhirnya situasi malah makin kacau."

Hal senada diungkap jurnalis Frederic Ferret. Ia menilai persaingan Hamilton-Rosberg tak bisa disamakan dengan dinamika Norris-Piastri. "Nico terobsesi mengalahkan Lewis. Setelah kalah telak di 2015, ia melihat 2016 sebagai kesempatan terakhir. Dari situ aturan seakan hilang, semuanya berjalan buruk, bukan hanya di lintasan," jelas Ferret.

Wolff kemudian menyinggung McLaren yang baru saja membuat keputusan soal strategi tim. Ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut bisa menjadi preseden berbahaya. "Anda telah menetapkan preseden yang sangat sulit dibatalkan. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, tapi kita akan lihat bagaimana hasilnya di akhir musim," kata Wolff.

Menurutnya, jika tim melakukan kesalahan lagi, sulit untuk menjustifikasi apakah pembalap harus dikorbankan demi kepentingan tim. Situasi semacam ini bisa memicu ketidakadilan, terutama bagi pembalap yang sedang berusaha mengejar poin.

Nico Rosberg sendiri turut memberi pandangan. Dalam podcast The F1 Show, ia membandingkan pengalaman di McLaren dengan kisahnya di Mercedes. Rosberg mengingat kembali GP Monaco 2016 ketika ia diminta memberi jalan kepada Hamilton agar Mercedes tidak kehilangan peluang kemenangan dari Red Bull.

"Sulit menerima, tapi itu jelas demi tim," ungkap Rosberg. "Namun, di Abu Dhabi situasinya berbeda. Lewis memilih tidak melakukan hal yang sama. Jika Anda pembalap dengan mental pembunuh, Anda akan mencoba memaksimalkan celah abu-abu."

Persaingan internal di F1 memang kerap melahirkan drama besar. Penyesalan Wolff di masa lalu kini menjadi peringatan nyata bagi McLaren agar lebih bijak mengelola dinamika dua pembalap mudanya.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE