Flawless Luncurkan DeepEditor, Alat Editing Berbasis AI untuk Industri Film
JAKARTA, GENVOICE.ID - Perusahaan teknologi film berbasis AI, Flawless, resmi meluncurkan alat editing terbaru mereka, DeepEditor. Alat ini dirancang untuk memungkinkan pembuat film melakukan perubahan visual dan audio secara realistis tanpa perlu melakukan syuting ulang.
DeepEditor menawarkan berbagai fitur utama, termasuk pemindahan ekspresi aktor dari satu adegan ke adegan lain, pengubahan dialog tanpa mengubah adegan asli, serta sinkronisasi gerakan bibir agar sesuai dengan kata-kata baru. Selain itu, pengguna dapat memangkas dialog, menambahkan jeda, dan menyesuaikan tempo ucapan. Semua hasil edit tersedia dalam resolusi 4K.
Teknologi ini telah digunakan dalam film Fall, sebuah thriller bertahan hidup yang disutradarai oleh Scott Mann, salah satu pendiri Flawless. Dalam proyek ini, DeepEditor digunakan untuk menghapus kata-kata kasar dalam dialog guna menyesuaikan film dengan rating PG-13, sehingga dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Proses editing dilakukan dengan mengonversi wajah aktor menjadi model 3D, kemudian menggunakan jaringan saraf buatan untuk menganalisis dan merekonstruksi ekspresi serta gerakan bibir sesuai dengan dialog baru. Hasilnya, Fall berhasil memperoleh rating PG-13 dan meraih pendapatan sekitar 21 juta dolar dari modal produksi 3 juta dolar.
Selain menghadirkan inovasi dalam editing film, Flawless juga memperkenalkan Artistic Rights Treasury (A.R.T.), sebuah sistem yang memungkinkan aktor meninjau dan menyetujui perubahan berbasis AI sebelum diterapkan. Serikat aktor SAG-AFTRA telah memberikan dukungan terhadap langkah ini.
Scott Mann menyatakan bahwa teknologi ini dapat mengubah cara produksi film di masa depan. "DeepEditor memberikan fleksibilitas kreatif yang lebih luas dan tetap menghormati proses artistik di balik setiap film," ujarnya.
Dengan peluncuran DeepEditor, teknologi AI dalam industri perfilman diperkirakan akan semakin berkembang, memberikan efisiensi dalam produksi sekaligus menjaga kualitas visual dan naratif dalam karya sinematik.
0 Comments





- Mengenal Garage Rock Revival, Sub Genre yang Kembali Ramai di Kancah Musik Arus Pinggir Indonesia
- Lagu Eminem yang Belum Rilis Bocor, Mantan Teknisi Jadi Terdakwa
- Korea Selatan Dilanda Kebakaran Hutan Terburuk dalam Sejarah
- Pemutaran Film "No Other Land" di Miami Beach Berujung Kontroversi
- Game "Split Fiction" Terjual Lebih dari Satu Juta Kopi dalam Dua Hari
- Pharrell Williams dan Michel Gondry Batalkan Film Musikal Mereka Setelah Proses Syuting
- Shai Gilgeous-Alexander Cetak 51 Poin, Thunder Kalahkan Rockets
- Lando Norris Start Terdepan di Grand Prix Australia 2025
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!