WHO Prediksi Kasus Kanker Global Naik 66 Persen pada 2050, Negara Miskin Diperkirakan Terdampak Lebih Berat

WHO Prediksi Kasus Kanker Global Naik 66 Persen pada 2050, Negara Miskin Diperkirakan Terdampak Lebih Berat
- (Dok. Columbia Asia).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus kanker baru di seluruh dunia akan meningkat tajam dalam beberapa dekade mendatang. Dalam laporan global yang dirilis pada 8 Juli 2026, WHO memproyeksikan kasus kanker tahunan akan mencapai sekitar 35 juta pada 2050 atau meningkat sekitar 66,7 persen dibandingkan kondisi saat ini.

Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya pertumbuhan populasi dunia, meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, serta semakin besarnya paparan terhadap berbagai faktor risiko penyebab kanker.

Meski demikian, lonjakan kasus diperkirakan tidak akan terjadi secara merata di setiap negara. Negara-negara berpendapatan tinggi saat ini memang mencatat jumlah kasus kanker yang lebih besar, tetapi mereka juga memiliki tingkat deteksi dini dan keberhasilan pengobatan yang lebih baik.

Menurut WHO, masyarakat di negara maju memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh diagnosis sejak stadium awal serta akses terhadap pengobatan yang memadai. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya angka harapan hidup pasien kanker.

Sebaliknya, negara berpendapatan rendah dan berkembang masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan kanker. Keterbatasan fasilitas kesehatan, mulai dari layanan laboratorium patologi, pemeriksaan pencitraan seperti CT scan dan rontgen, operasi, radioterapi, hingga ketersediaan obat-obatan, membuat angka kematian akibat kanker tetap tinggi.

Laporan itu juga untuk pertama kalinya membandingkan tingkat kelangsungan hidup lima tahun pasien kanker payudara dan kanker anak di berbagai negara. Hasilnya menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar antara negara kaya dan negara miskin.

Pada kasus kanker payudara, lebih dari 85 persen pasien di negara berpendapatan tinggi mampu bertahan hidup setidaknya selama lima tahun setelah didiagnosis. Sementara di negara berpendapatan rendah, angka tersebut tercatat kurang dari 45 persen.

Perbedaan yang lebih mencolok terlihat pada kanker anak, khususnya leukemia limfoid. Di sejumlah negara Eropa, tingkat kelangsungan hidup mencapai sekitar 93 persen, sedangkan di beberapa wilayah Afrika hanya sekitar 19 persen.

WHO menilai salah satu penyebab utama kesenjangan tersebut adalah minimnya akses terhadap layanan diagnosis. Diperkirakan hampir 47 persen penduduk dunia masih memiliki akses yang sangat terbatas atau bahkan tidak memiliki akses sama sekali terhadap pemeriksaan dasar, termasuk layanan laboratorium dan pencitraan medis.

Kondisi tenaga kesehatan juga menjadi tantangan. Di kawasan Sub-Sahara Afrika, misalnya, hanya tersedia sekitar satu dokter spesialis patologi kanker untuk setiap satu juta penduduk. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara maju.

Perbedaan akses juga terlihat dalam layanan pengobatan. Sebagai contoh, operasi untuk kanker paru-paru ditanggung oleh sistem jaminan kesehatan di sekitar 96 persen negara berpendapatan tinggi, sedangkan di negara berpendapatan rendah cakupannya hanya sekitar 19 persen.

WHO memperingatkan bahwa kesenjangan tersebut berpotensi semakin melebar apabila tidak diikuti peningkatan kapasitas sistem kesehatan. Beban penyakit diperkirakan akan bergeser ke negara-negara yang justru memiliki sumber daya paling terbatas.

Dalam proyeksi hingga 2050, negara-negara berpendapatan rendah diperkirakan mengalami lonjakan kasus kanker baru hingga sekitar 133 persen. Peningkatan tersebut dikhawatirkan akan memberikan tekanan besar terhadap sistem kesehatan yang sudah menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur maupun tenaga medis.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE