Makanan Penghisap Karbon, Solusi Baru untuk Mengurangi Emisi dan Melindungi Bumi

I
Ihsan
Penulis
Lifestyle
Makanan Penghisap Karbon, Solusi Baru untuk Mengurangi Emisi dan Melindungi Bumi
- (Dok. Getty Images).

Sebagian besar produksi makanan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim, mulai dari penggunaan traktor, pembuatan pupuk, hingga proses pencernaan pada hewan ternak.

Bahkan, produksi makanan menyumbang hingga seperempat dari total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia. Namun, ada jenis makanan tertentu yang tidak hanya rendah karbon, tetapi juga mampu menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer, menjadikannya sebagai makanan yang menghisap karbon.

Apa Itu Makanan Karbon Negatif?

Makanan karbon negatif adalah produk yang menyerap lebih banyak karbon dari atmosfer daripada yang mereka keluarkan selama proses produksi. Dengan mengonsumsi makanan ini, kita tidak hanya dapat mengurangi dampak karbon dalam makanan kita, tetapi juga membantu memulihkan ekosistem.

iklan gulaku

Saat tanaman tumbuh, mereka menyerap CO2 dari udara. Namun, biasanya, CO2 ini dilepaskan kembali ketika tanaman tersebut dimetabolisme. Untuk mengatasi emisi yang terus meningkat, penting bagi kita untuk menyimpan karbon secara permanen, baik di dasar laut, batuan, tanah, maupun pepohonan.

Dilansir dari BBC International, berikut adalah beberapa contoh makanan dan praktik produksi yang berpotensi karbon negatif:

  1. Kelp

Kelp, sejenis alga laut, menyerap CO2 saat tumbuh. Bagian kelp yang mati sering kali tenggelam ke dasar laut, menyimpan sebagian karbon di sana. Agar makanan berbasis kelp benar-benar karbon negatif, rantai pasokannya harus sangat efisien, dengan sedikit pengangkutan, pengemasan, dan pemrosesan. Selain itu, pembelian kelp juga dapat mendorong pemulihan hutan kelp yang rusak, memberikan manfaat lingkungan yang lebih luas.

  1. Produk Bakteri

Beberapa bakteri, seperti bakteri pengoksidasi metana, mampu menyerap gas metana, yang memiliki potensi pemanasan 30 kali lebih besar daripada CO2. Produk berbasis bakteri, seperti protein bubuk atau pengganti daging, dapat menjadi karbon negatif. Pada tahun 2023, perusahaan Finlandia, Solar Foods, meluncurkan es krim di Singapura yang mengandung protein dari bakteri, membuka potensi pasar untuk makanan berbasis mikroba.

  1. Buah dan Sayuran di Lahan Basah

Blueberry, cranberry, dan seledri yang ditanam di lahan gambut basah memiliki potensi karbon negatif karena lahan ini dapat menyerap karbon lebih cepat daripada yang dilepaskan. Namun, produk seperti blueberry sering memiliki jejak karbon tinggi karena pengemasan plastik dan pengiriman jarak jauh.

  1. Kacang-kacangan, Zaitun, dan Jeruk

Menanam pohon di lahan pertanian menyimpan karbon secara signifikan. Produk kacang-kacangan, misalnya, dapat menyerap 1,3 kg CO2 per kg, dengan potensi penyimpanan lebih lama jika kayu dari pohon tersebut digunakan untuk produk tahan lama.

  1. Makanan dari Pertanian Regeneratif

Praktik pertanian regeneratif, seperti tidak membajak tanah atau menanam pagar tanaman, dapat meningkatkan penyimpanan karbon di tanah. Beberapa produk sudah mengklaim status karbon negatif, seperti bir dari Gipsy Hill Brewery di London, yang produksinya didukung oleh penilaian siklus hidup yang ketat.

Namun, untuk makanan dengan emisi tinggi seperti daging sapi, praktik ini jarang mampu membuatnya menjadi karbon negatif. Sebagai contoh, produksi 1 kg daging sapi dengan praktik regeneratif membutuhkan hingga 500 meter persegi lahan, yang tidak berkelanjutan untuk memenuhi permintaan global.

  • Tag:
  • lifestyle
  • Cinta
  • Zodiac
  • Ramalan

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Update Today