Kontroversi Laga Spanyol vs Mesir, Chant Anti-Muslim Picu Kecaman dan Respons Tegas Lamine Yamal
JAKARTA, GENVOICE.ID - Laga uji coba antara Timnas Spanyol dan Timnas Mesir yang berakhir imbang tanpa gol di RCDE Stadium justru memicu polemik besar. Pertandingan yang seharusnya menjadi ajang pemanasan menjelang turnamen internasional berubah menjadi sorotan akibat chant bernada anti-Muslim dari sebagian suporter.
Insiden terjadi sejak awal pertandingan ketika sejumlah penonton menyanyikan chant yang dianggap menghina umat Muslim. Nyanyian tersebut kembali terdengar beberapa kali sepanjang laga, meski sempat mendapat peringatan dari pihak stadion untuk menghentikan segala bentuk ujaran rasis, homofobik, maupun xenofobik.
Federasi sepak bola setempat, RFEF, bahkan mengeluarkan imbauan resmi melalui pengeras suara. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif karena chant serupa masih muncul di babak kedua, meskipun sebagian penonton lain menunjukkan penolakan dengan siulan.
Sorotan kemudian tertuju pada bintang muda Lamine Yamal yang berada di lapangan saat insiden terjadi. Pemain berusia 18 tahun itu diketahui merupakan seorang Muslim, sehingga situasi tersebut menjadi semakin sensitif.
Melalui media sosial, Yamal menyampaikan sikap tegasnya. Ia menilai chant tersebut tetap merupakan bentuk penghinaan, meskipun ditujukan kepada tim lawan. Baginya, sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk menikmati pertandingan, bukan tempat menyebarkan kebencian terhadap identitas atau keyakinan tertentu.
Latar belakang Yamal turut menjadi perhatian. Ia lahir di Spanyol dari ayah berdarah Maroko dan ibu asal Guinea Khatulistiwa. Dalam beberapa kesempatan, ia juga terbuka mengenai peran agama dalam hidupnya, termasuk menjalani ibadah Ramadan di tengah jadwal profesional sebagai pemain.
Insiden ini kembali mengangkat isu lama yang masih menghantui sepak bola Spanyol, yakni rasisme di stadion. Sebelumnya, sejumlah pemain seperti Vinícius Júnior dan Iñaki Williams juga pernah menjadi korban perlakuan serupa.
Bahkan, Yamal sendiri sempat mengalami ejekan rasis dalam laga El Clasico beberapa tahun lalu. Kasus tersebut berujung pada sanksi bagi pelaku, namun belum sepenuhnya menghilangkan masalah diskriminasi di lingkungan sepak bola.
Kontroversi ini menjadi semakin sensitif mengingat Spanyol akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Portugal dan Maroko. Insiden di stadion dinilai berpotensi merusak citra sepak bola negara tersebut di mata internasional.
Presiden RFEF, Rafael Louzán, menyebut kejadian tersebut sebagai insiden terisolasi dan menegaskan bahwa pihaknya telah mengecam tindakan tersebut. Meski begitu, berbagai media lokal menilai peristiwa ini sebagai noda serius bagi sepak bola Spanyol.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa isu diskriminasi masih menjadi pekerjaan rumah besar di dunia sepak bola, terutama menjelang panggung global seperti Piala Dunia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!