JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebuah pesawat milik Angara Airlines yang mengangkut 49 orang dilaporkan jatuh di wilayah pegunungan dekat Bandara Tynda, Rusia, pada Kamis (25/7). Tim penyelamat saat ini tengah berpacu dengan waktu untuk mencari kemungkinan korban selamat.
Pesawat jenis An-24 yang berbasis di Siberia itu dilaporkan hilang dari radar dan tidak merespons panggilan pengatur lalu lintas udara saat mendekati tujuan akhir di kota terpencil Tynda, wilayah Amur-dekat perbatasan dengan Tiongkok.
Menurut laporan dari badan penanggulangan darurat setempat yang dikutip oleh RIA Novosti, bangkai pesawat ditemukan terbakar di lereng gunung, sekitar 15 kilometer dari bandara Tynda. Belum ada tanda-tanda penumpang selamat yang ditemukan dalam pencarian udara, namun operasi darat masih berlangsung.
Gubernur wilayah Amur, Vasily Orlov, menyebut bahwa pesawat tersebut membawa 43 penumpang termasuk lima anak-anak, serta enam kru pesawat. "Seluruh sumber daya telah dikerahkan untuk pencarian," tulis Orlov di Telegram, dikutip dariThe Guardian, Kamis (24/7).
Penyelidikan awal mengungkap dua kemungkinan penyebab insiden: kegagalan mesin dan kesalahan manusia. Komite investigasi transportasi Rusia telah membuka kasus resmi untuk menyelidiki penyebab kecelakaan.
An-24 sendiri merupakan pesawat bermesin turboprop ganda yang dirancang oleh Biro Desain Antonov pada akhir 1950-an. Dikenal tangguh dan mampu mendarat di landasan yang belum beraspal, jenis ini banyak digunakan di wilayah terpencil Rusia dan Asia Tengah. Pesawat Angara yang jatuh kali ini diketahui dibuat pada tahun 1976, menjadikannya berusia hampir 50 tahun.
Insiden ini merupakan kecelakaan fatal pertama dalam penerbangan sipil Rusia sejak Juli 2021, ketika sebuah pesawat An-26 jatuh di Palana dan menewaskan seluruh 28 orang di dalamnya.
Namun sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai, laporan mengenai gangguan teknis non-fatal pada pesawat penumpang meningkat tajam. Hal ini tak lepas dari sanksi internasional yang menghambat suplai suku cadang serta penyitaan pesawat buatan barat seperti Boeing dan Airbus.
Dengan kesulitan memperbarui armada peninggalan era Soviet dan keterbatasan produksi dalam negeri, keselamatan penerbangan di Rusia kini menjadi sorotan tajam.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!