Kontroversi Reklame Israel Catut Foto Prabowo untuk 'Abraham Shield', Kemlu RI Tegas Menolak Normalisasi

Kenapa Foto Presiden Prabowo Muncul di Kampanye Propaganda Israel 'Abraham Shield'?

Kontroversi Reklame Israel Catut Foto Prabowo untuk 'Abraham Shield', Kemlu RI Tegas Menolak Normalisasi
Presiden Prabowo Subianto muncul di papan reklame nasional Israel. - (Dok. Instagram @abraham.shield.plan).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Heboh di media sosial, foto Presiden terpilih Prabowo Subianto tiba-tiba muncul di papan reklame nasional Israel! Foto Prabowo dijejerkan bersama tokoh dunia seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, dalam kampanye yang disebut Abraham Shield, mendesak perluasan Perjanjian Abraham.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) akhirnya buka suara, menegaskan bahwa kemunculan foto tersebut sama sekali tidak mengubah posisi Indonesia yang menolak normalisasi hubungan dengan Israel selama Palestina belum merdeka.

Kampanye ini mendesak Israel mendukung "Trump's Plan" untuk mengakhiri perang Gaza dan memperluas Perjanjian Abraham (Abraham Accords). Pesan di reklame itu tegas: "Yes to Trump's Plan - GET IT DONE." Jelas, foto Prabowo dipakai sebagai alat propaganda untuk menunjukkan dukungan regional terhadap rencana tersebut.

Reaksi Kemlu RI: Tidak Ada Normalisasi!

Merespons viralnya foto tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI akhirnya buka suara. Juru bicara Yvonne Mewengkang menegaskan posisi Indonesia itu sangat clear.

"Posisi Indonesia sangatclearbahwa tidak akan ada pengakuan dan normalisasi dengan Israel baik melalui Abraham Accords atau platform lainnya, kecuali Israel terlebih dahulu mau mengakui negara Palestina yang merdeka dan berdaulat," ujar Yvonne.

Intinya, visi apapun terkait Israel harus dimulai dari kemerdekaan Palestina. Jadi, Gen, jangan khawatir, Pemerintah RI tidak mengakui kebijakan Israel hanya karena wajah Presiden muncul di sana.

Sindiran Pedas dari Dandhy Laksono

Meskipun Kemlu sudah menjelaskan, kontroversi ini tetap banjir kritik. Salah satunya datang dari jurnalis investigasi, Dandhy Dwi Laksono (pendiri WatchdoC).

Melalui akun X pribadinya, Dandhy menyindir pidato Prabowo di PBB soal keamanan Israel dan wacana merelokasi warga Gaza ke Pulau Galang. Dandhy kemudian melontarkan sindiran pedas, mengaitkannya dengan istilah "antek asing" yang sering diucapkan Prabowo kepada para pengkritik. Dandhy menyebutnya: "Antek asing yang malu-malu."

Kisah ini menunjukkan betapa sensitifnya isu Palestina di Indonesia dan bagaimana setiap langkah politik, sekecil apapun, bisa langsung memicu reaksi keras.

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE