Serangan Rusia Tewaskan 26 Orang di Kyiv, Zelenskyy Serukan Perubahan Rezim di Moskow
JAKARTA, GENVOICE.ID - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali mengirim pesan tegas ke dunia internasional. Setelah serangan udara besar-besaran Rusia menewaskan 26 orang-termasuk tiga anak-anak-di ibu kota Kyiv, Zelenskyy menyerukan agar sekutu-sekutunya mulai mendorong perubahan rezim di Rusia.
"Rusia bisa dipaksa menghentikan perang ini," ujar Zelenskyy saat berbicara secara virtual di konferensi yang memperingati 50 tahun Perjanjian Helsinki. "Namun, jika dunia tidak menargetkan perubahan rezim di Rusia, maka setelah perang ini berakhir pun, Moskow tetap akan berusaha mengguncang negara-negara tetangganya."
Serangan terbaru Rusia itu, yang berlangsung dari Rabu malam hingga Kamis pagi, melibatkan lebih dari 300 drone dan delapan rudal jelajah, dengan Kyiv menjadi target utama. Salah satu rudal menghantam gedung apartemen sembilan lantai di distrik Sviatoshynsky, merobek bagian fasad dan menyebabkan kerusakan parah. Menurut Kementerian Dalam Negeri Ukraina, 10 jenazah ditemukan dari puing-puing gedung tersebut, termasuk anak berusia dua tahun.
Otoritas setempat mencatat setidaknya 150 orang terluka, termasuk 16 anak dan enam petugas kepolisian. Layanan penyelamatan menyebut ini sebagai jumlah korban anak-anak tertinggi dalam satu serangan di Kyiv sejak invasi Rusia dimulai.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut mengecam Rusia, menyebut tindakan Moskow sebagai sesuatu yang "menjijikkan". Trump mengatakan sanksi baru akan segera dikenakan terhadap Rusia, meskipun ia juga mengakui bahwa sanksi mungkin tidak akan memengaruhi Presiden Vladimir Putin. Pernyataan itu muncul hanya beberapa hari setelah Trump memberikan ultimatum 10 hingga 12 hari kepada Rusia untuk menghentikan invasi atau menghadapi sanksi baru.
Di sisi politik domestik, Ukraina mencoba memulihkan kepercayaan publik dengan mengesahkan undang-undang yang mengembalikan independensi dua lembaga antikorupsi utama. Keputusan ini membatalkan aturan sebelumnya yang memicu demonstrasi besar di Kyiv-protes terbesar sejak invasi Rusia tiga tahun lalu. Ratusan warga meneriakkan "rakyat adalah kekuatan" saat RUU itu disahkan. Zelenskyy langsung menandatanganinya menjadi undang-undang, menghindari potensi krisis politik di dalam negeri yang bisa melemahkan solidaritas dengan sekutu Eropa.
Di medan perang, Rusia mengklaim telah merebut kota Chasiv Yar di wilayah timur Donetsk-sebuah titik strategis penting. Namun klaim tersebut dibantah oleh Zelenskyy, yang menyebutnya sebagai "disinformasi Rusia". Analis militer Ukraina Oleksandr Kovalenko menyatakan bahwa pasukan Rusia telah menguasai bagian utara dan timur kota, namun pertempuran sengit masih berlanjut di sisi barat.
Hingga kini, pernyataan dari kedua belah pihak belum dapat diverifikasi secara independen, sementara pertempuran di Ukraina memasuki hari ke-1.255 dengan ketegangan dan eskalasi yang terus meningkat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!