Mengapa Italia Gagal Lolos Piala Dunia Tiga Kali Beruntun? Ini Akar Masalahnya

Mengapa Italia Gagal Lolos Piala Dunia Tiga Kali Beruntun? Ini Akar Masalahnya
- (Dok. Vietnam).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Timnas Italia kembali menelan pil pahit di kancah internasional. Setelah kalah dramatis lewat adu penalti dari Bosnia-Herzegovina, Timnas Italia dipastikan absen di Piala Dunia 2026. Hasil ini menandai kegagalan ketiga secara beruntun setelah sebelumnya juga tak lolos ke edisi 2018 dan 2022.

Kekalahan tersebut terjadi di Stadion Bilino Polje, yang menjadi saksi malam kelam bagi Gli Azzurri. Sementara itu, Timnas Bosnia-Herzegovina justru mencetak sejarah dengan memastikan tempat di Piala Dunia untuk kedua kalinya.

Pelatih Italia, Gennaro Gattuso, tak mampu menyembunyikan emosinya usai laga. Ia mengakui kegagalan ini menjadi pukulan besar, tidak hanya bagi tim, tetapi juga bagi keseluruhan ekosistem sepak bola Italia. Meski begitu, Ketua Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, disebut masih menginginkan Gattuso tetap melanjutkan pekerjaannya.

Kegagalan ini memperpanjang tren negatif Italia dalam dua dekade terakhir. Sejak menjuarai Piala Dunia 2006, performa mereka terus menurun. Italia tersingkir di fase grup pada 2010 dan 2014, lalu gagal lolos ke putaran final 2018 dan 2022. Bahkan gelar Euro 2020 hanya menjadi pengecualian di tengah inkonsistensi yang terus terjadi.

Masalah Italia tidak hanya terjadi di lapangan. Dari sisi pembinaan pemain, Italia dinilai mulai tertinggal. Sejak diberlakukannya Bosman ruling, klub-klub Serie A semakin dipenuhi pemain asing. Dampaknya, kesempatan bermain bagi talenta lokal semakin terbatas, sehingga regenerasi pemain tidak berjalan optimal.

Selain itu, kondisi finansial klub-klub Italia juga menjadi sorotan. Dibandingkan liga-liga top Eropa lain, pendapatan klub Serie A relatif tertinggal. Minimnya modernisasi stadion serta keterbatasan investasi membuat daya saing klub menurun, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pemain yang dihasilkan.

Legenda Italia, Alessandro Del Piero, sebelumnya juga menyoroti dua aspek utama yang perlu dibenahi, yakni infrastruktur stadion dan sistem pembinaan usia muda. Tanpa perbaikan di dua sektor ini, sulit bagi Italia untuk kembali bersaing di level tertinggi.

Di sisi lain, tekanan mental juga disebut menjadi faktor penting. Kekalahan di babak play-off dalam beberapa edisi sebelumnya, termasuk melawan Swedia dan Makedonia Utara, meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih. Kini, kekalahan dari Bosnia-Herzegovina semakin memperdalam krisis kepercayaan diri tim.

Dengan situasi yang semakin kompleks, Italia kini dihadapkan pada pekerjaan rumah besar. Jika tidak segera melakukan pembenahan menyeluruh, bukan tidak mungkin kejayaan yang pernah mereka raih hanya akan menjadi kenangan dalam sejarah sepak bola dunia.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE