MUI Tegas: Stop Penjarahan Saat Demo, Jangan Rusak Citra Perjuangan!

MUI Tegas: Stop Penjarahan Saat Demo, Jangan Rusak Citra Perjuangan!
- (Dok. ANTARA).

JAKARTA, ENVOICE.ID - Gen, beberapa hari terakhir suasana demo di berbagai daerah makin panas. Banyak orang turun ke jalan buat menyuarakan kekecewaan mereka, tapi sayangnya ada juga yang melampiaskannya dengan cara salah: merusak fasilitas umum bahkan menjarah barang milik orang lain. Nah, soal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya buka suara dan kasih peringatan tegas.

Ketua MUI Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh, meminta semua pihak menahan diri biar aksi menyampaikan aspirasi nggak kebablasan jadi tindakan anarkis. Menurutnya, penjarahan, perusakan, dan pencurian sama sekali nggak bisa dibenarkan karena jelas bertentangan dengan hukum agama maupun aturan negara.

"Masyarakat agar menahan diri dari tindakan anarkistik, vandalisme, perusakan fasilitas publik, serta penjarahan dan pengambilan properti orang lain secara tidak hak," ujarnya dilansir dari ANTARA.

Beliau juga mengingatkan, siapa pun yang sudah terlanjur mengambil atau menguasai barang hasil penjarahan, lebih baik segera mengembalikannya ke pemilik atau menyerahkan ke pihak berwajib. Kalau nggak, risiko berurusan dengan hukum tinggal tunggu waktu aja.

Selain menyoroti soal aksi penjarahan, Niam juga mengajak semua elemen masyarakat buat introspeksi. Menurutnya, bangsa ini lagi ada di kondisi sosial politik dan ekonomi yang nggak gampang, ditambah kesenjangan yang masih tinggi. Karena itu, penting banget buat semua pihak-baik pejabat maupun rakyat-buat hidup sederhana, menjauhi gaya hidup hedon, dan berhenti pamer harta hanya demi konten.

"Di tengah situasi sosial ekonomi dan sosial politik yang kurang baik, kesenjangan yang masih tinggi, maka pejabat dan masyarakat sudah seharusnya mengedepankan gaya hidup yang sederhana, membangun solidaritas sosial, mengedepankan semangat kesetiakawanan sosial, serta menghindari flexing, gaya hidup mewah dan hedonisme, meski sekadar untuk konten," tegas Niam.

Di sisi lain, MUI juga menekankan bahwa suara mahasiswa dan masyarakat tetap harus didengar. Menurut Niam, kritik itu wajar selama untuk kebaikan negeri, dan pemerintah punya kewajiban buat menanggapi dengan cepat serta bijak. Jadi, perjuangan di jalan harus tetap fokus pada tujuan utama, bukan berubah jadi tindakan destruktif yang justru merugikan diri sendiri dan orang lain.


Gen, kalau aspirasi kita disampaikan dengan damai, suaranya justru akan lebih kuat. Tapi kalau dicampur sama penjarahan dan perusakan, bukannya didengar malah bisa bikin perjuangan kehilangan makna.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE