Zuckerberg Siap Guncang Dunia Lewat 'Personal Superintelligence', Apa Itu?

Zuckerberg Siap Guncang Dunia Lewat 'Personal Superintelligence', Apa Itu?
- (Dok. Tech Crunch).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Dunia teknologi kembali dikejutkan oleh pernyataan terbaru CEO Meta, Mark Zuckerberg, yang membagikan visinya tentang masa depan kecerdasan buatan, yakni "personal superintelligence", berisi suatu gagasan bahwa setiap orang harus dapat menggunakan AI untuk mencapai tujuan pribadinya.

Namun di balik visi mulia itu, terselip sinyal penting, Meta diam-diam mulai mengubah pendekatannya terhadap open source dalam pengembangan model AI canggihnya.

"Kami percaya manfaat dari superintelligence harus dibagikan seluas mungkin ke seluruh dunia. Namun, superintelligence juga akan menghadirkan tantangan keamanan yang belum pernah ada sebelumnya. Karena itu, kami akan sangat berhati-hati dalam hal apa yang kami pilih untuk dibuka ke publik," tulis Zuckerberg dalam suratnya.

Pernyataan ini menandai perubahan sikap yang cukup tajam dari Meta, yang selama ini menjadikan keterbukaan model AI Llama sebagai pembeda utama dari para pesaing seperti OpenAI, Google DeepMind, dan xAI. Bahkan pada 2024 lalu, Zuckerberg sempat menulis bahwa Llama akan menjadi model AI paling canggih di industri dan dirancang untuk tetap terbuka.

Namun kini, narasinya berubah. Zuckerberg tampaknya mulai menyadari bahwa keterbukaan total mungkin bukan strategi terbaik di tengah persaingan yang semakin ketat. Terlebih, Meta telah menginvestasikan lebih dari 14,3 miliar dolar AS dalam upaya membangun kecerdasan buatan setara manusia (AGI), termasuk mengakuisisi Scale AI dan mendirikan unit baru bernama Meta Superintelligence Labs.

Langkah besar ini memperlihatkan bahwa Meta kini serius mengejar ketertinggalan dari GPT-4 milik OpenAI. Bahkan, menurut laporan terkini, Meta menghentikan sementara pengujian model Llama terbaru yang dijuluki "Behemoth" dan mulai mengalihkan fokus ke pengembangan model tertutup.

Meskipun juru bicara Meta menegaskan bahwa perusahaan "tetap berkomitmen pada open source," mereka juga mengakui akan terus melatih campuran model terbuka dan tertutup di masa mendatang. Artinya, Meta tak lagi menjadikan open source sebagai standar default dalam pengembangan AI-nya.

Lebih jauh lagi, Zuckerberg juga mengungkap strategi monetisasi Meta ke depan: mengintegrasikan AI ke dalam perangkat pribadi seperti kacamata augmented reality (AR) dan headset virtual reality (VR). Dalam visinya, perangkat ini akan memahami konteks penggunanya secara langsung, melihat, mendengar, dan berinteraksi sepanjang hari, serta menjadi pusat komputasi utama di masa depan.

"Perangkat pribadi seperti kacamata, yang bisa memahami konteks kita, akan menjadi komputer utama kita," tulis Zuckerberg.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE