Batang Toru Dibabat Habis: Banjir Bandang Mengintai, Rumah Orangutan Tapanuli Hampir Punah
JAKARTA, GENVOICE.ID - Hujan deras yang mengguyur Sumatera dalam beberapa hari terakhir ternyata hanya menjadi pemantik dari bencana yang lebih besar. Di balik banjir bandang yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ada satu nama yang kembali disorot: Batang Toru, kawasan hutan yang dulu dijuluki paru-paru Sumatera dan kini tinggal bayangan.
Kerusakan parah paling terasa di daerah-daerah yang berada di sekitar Batang Toru, mulai dari Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, sampai Kota Sibolga. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara menegaskan bahwa banjir kali ini bukan sekadar bencana alam, melainkan potret dari pembabatan hutan yang berlangsung terus-menerus.
Setiap banjir membawa batang-batang kayu besar, seakan menjadi bukti visual bahwa hutan di hulu telah dibuka habis-habisan. Citra satelit pun menunjukkan area yang gundul. Kebijakan yang memberi ruang kepada perusahaan untuk membuka lahan disebut menjadi pemicu utama kerusakan ekosistem Batang Toru.
Secara administratif, tutupan hutan Harangan Tapanuli sebenarnya sangat luas. Sebanyak 66,7 persen berada di Tapanuli Utara, 22,6 persen di Tapanuli Selatan, dan 10,7 persen di Tapanuli Tengah. Sebagai bagian dari Bukit Barisan, kawasan ini memegang peran vital: sumber air, penahan erosi, sekaligus pusat daerah aliran sungai yang menyuplai wilayah hingga ke hilir. Namun angka-angka itu hanya berarti di atas kertas ketika pembukaan lahan terus terjadi.
Dokumen risiko bencana nasional Sumatera Utara 2022–2026 bahkan menempatkan Ekosistem Batang Toru dalam kategori rawan tinggi banjir dan longsor. Melihat banjir bandang yang baru saja terjadi, prediksi itu seolah menjadi kenyataan paling pahit.
Lebih dari sekadar bencana ekologis, lenyapnya hutan Batang Toru juga mengancam satu spesies paling langka di dunia: orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Spesies ini baru diakui secara resmi pada 2017 lewat publikasi ilmiah di jurnal Current Biology. Ironisnya, spesies termuda dalam dunia sains langsung masuk kategori Critically Endangered atau sangat kritis terancam punah menurut IUCN Red List.
Menurut data resmi SRAK Orangutan 2019–2029, populasi orangutan Tapanuli sekarang hanya 500–760 ekor. Mereka bukan hanya terancam oleh deforestasi, tetapi juga perburuan ilegal, perdagangan bayi orangutan, hingga proyek-proyek besar seperti pembangunan bendungan dan pertambangan emas yang merangsek masuk ke wilayah habitat mereka.
Secara fisik, orangutan Tapanuli mirip dengan kerabatnya di Sumatra, namun bulunya lebih tebal dan keriting, lengkap dengan kumis menonjol dan bantalan pipi yang datar. Mereka hidup dari buah-buahan, serangga, hingga dedaunan. Tetapi tanpa habitat, semua karakteristik itu perlahan terhapus.
IUCN bahkan memprediksi populasi orangutan Tapanuli bisa menurun hingga 83 persen dalam tiga generasi jika tidak ada langkah konservasi yang signifikan. Para peneliti dan organisasi lingkungan menyebut bahwa sejak pengumuman spesies ini tahun 2017, perubahan yang dijanjikan nyaris tidak terlihat. Status spesies baru tidak otomatis menyelamatkan mereka dari ancaman yang sama.
Batang Toru saat ini bukan lagi sekadar isu lingkungan. Ia adalah potret bagaimana hilangnya satu ekosistem bisa menjalar menjadi bencana yang menelan korban dan merusak permukiman. Dan di tengah suara warga yang kehilangan rumah, ada suara lain yang semakin tenggelam: suara orangutan Tapanuli yang kehilangan hutan terakhirnya.
Banjir bandang hari ini mungkin hanya gejala. Namun akar persoalannya jelas: ketika hutan terakhir ditebang, bencana tinggal menunggu giliran.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!