Fakta Mengejutkan! Inilah Alasan Pancasila Disebut Sakti di Hari Kesaktian 1 Oktober

Fakta Mengejutkan! Inilah Alasan Pancasila Disebut Sakti di Hari Kesaktian 1 Oktober
- (Dok. Instagram/@monumenpancasilasakti).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Hari Kesaktian Pancasila selalu jadi momen penting yang diperingati setiap 1 Oktober. Buat sebagian anak muda, mungkin ada yang cuma tahu kalau hari ini bagian dari sejarah kelam bangsa, tapi belum benar-benar paham makna di baliknya. Padahal, Gen, peringatan ini punya cerita panjang yang bikin kita sadar kenapa Pancasila disebut "sakti".

Kalau ditarik ke belakang, awal mula peringatan ini nggak lepas dari tragedi G30S/PKI pada 1965. Saat itu, kelompok yang ingin mengganti dasar negara dengan ideologi komunis melakukan aksi brutal berupa penculikan hingga pembunuhan sejumlah jenderal Angkatan Darat. Dari tragedi inilah, bangsa Indonesia diuji: apakah Pancasila masih mampu jadi pemersatu, atau runtuh ditelan ideologi lain.

Dikutip dari laman resmi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Pancasila tetap disebut sakti karena terbukti kuat menghadapi berbagai cobaan. Indonesia kan negara yang super majemuk, mulai dari suku, budaya, sampai agama. Kalau nggak ada fondasi yang kokoh, bisa-bisa perpecahan jadi kenyataan. Tapi Pancasila berhasil jadi payung besar yang bikin semua perbedaan itu bisa berdampingan.

Dalam KBBI, kata "sakti" sendiri berarti mampu melakukan sesuatu di luar batas wajar, punya kekuatan keramat. Nah, makna inilah yang kemudian dilekatkan ke Pancasila. Kesaktian Pancasila dipahami sebagai keyakinan kalau cuma ideologi ini yang bisa menjaga keutuhan bangsa Indonesia, bukan yang lain.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila akhirnya resmi ditetapkan pada 1 Oktober 1966 melalui Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat, Jenderal Soeharto. Penetapan ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan untuk para pahlawan revolusi yang gugur di tragedi G30S/PKI. Nama-nama besar seperti Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Suprapto, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, hingga Lettu Pierre Tendean menjadi saksi sejarah pahit bangsa.

Buat generasi muda seperti kita, Gen, peringatan ini jadi pengingat bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan di buku pelajaran. Lebih dari itu, Pancasila adalah nilai hidup yang harus diamalkan biar bangsa tetap utuh. Kesaktiannya bukan cuma karena bertahan dari ancaman, tapi juga karena mampu menyatukan perbedaan yang ada di negeri ini.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE