AS Larang Impor Robot Humanoid dan Inverter, Alasan Keamanan Nasional
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali memperketat aturan terhadap produk teknologi dari luar negeri. Kali ini, sejumlah perangkat seperti robot humanoid, robot anjing, hingga inverter daya masuk dalam daftar produk yang dilarang untuk diimpor ke AS. Kebijakan tersebut diambil karena perangkat-perangkat tersebut dinilai memiliki potensi menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional.
Larangan itu diumumkan Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (Federal Communications Commission/FCC) pada Selasa (28/7) waktu setempat. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah AS untuk membatasi masuknya perangkat teknologi yang dinilai berpotensi dimanfaatkan pihak asing.
Menurut laporan TechCrunch pada Rabu (29/7), FCC menilai perangkat yang diproduksi di luar AS berpotensi dikendalikan dari jarak jauh. Selain itu, teknologi tersebut juga dikhawatirkan dapat digunakan untuk melakukan pengawasan oleh pemerintah asing maupun dimanfaatkan dalam serangan siber.
Meski demikian, aturan tersebut tidak berlaku mutlak. FCC memberikan kemungkinan pengecualian apabila pemerintah AS menentukan bahwa suatu perangkat tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional.
Robot Humanoid hingga Robot Anjing Masuk Daftar
Salah satu kategori yang terkena aturan baru tersebut adalah robot humanoid. Teknologi ini merupakan jenis robot yang dirancang untuk bergerak menyerupai manusia dan saat ini masih berada dalam tahap pengembangan awal.
Meski teknologinya belum sepenuhnya matang, perkembangan robot humanoid terus meningkat. Sepanjang 2025, sekitar 15 ribu unit robot humanoid dilaporkan telah dikirim ke berbagai negara di dunia. Sebagian besar pengiriman tersebut berasal dari dua produsen robot humanoid asal China.
Selain robot humanoid, robot yang bergerak menyerupai anjing juga ikut masuk dalam larangan impor baru tersebut. Pemerintah AS menilai perangkat berbasis teknologi seperti itu memiliki potensi risiko jika dapat dikendalikan dari jarak jauh atau dimanfaatkan untuk aktivitas yang mengancam keamanan.
Kebijakan ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap produk asal China. Pasalnya, China saat ini menguasai sebagian besar pangsa pasar global untuk kategori teknologi yang terdampak aturan tersebut.
Inverter Daya Ikut Dibatasi
Tidak hanya robot, pemerintah AS juga memasukkan inverter daya ke dalam daftar produk yang terkena larangan impor baru.
Perangkat tersebut banyak digunakan di rumah-rumah di AS, terutama untuk menghubungkan sistem panel surya maupun sumber energi terbarukan lainnya dengan jaringan listrik yang lebih luas.
Namun, FCC memberikan batasan terhadap penerapan aturan tersebut. Inverter yang sudah terpasang di rumah masyarakat maupun instalasi yang telah digunakan tidak ikut terdampak oleh kebijakan baru.
Aturan ini muncul di tengah hubungan teknologi AS dan China yang masih diwarnai kekhawatiran mengenai keamanan siber. Pemerintah AS selama ini menuduh China melakukan peretasan terhadap perusahaan-perusahaan Amerika untuk mendapatkan data serta mempersiapkan kemungkinan serangan siber di masa depan.
Sebelum kebijakan terbaru ini, pemerintah AS juga telah menerapkan sejumlah pembatasan terhadap produk dan teknologi buatan luar negeri. Beberapa di antaranya berkaitan dengan aplikasi TikTok, router konsumen produksi asing, serta perangkat pengawasan dari perusahaan China seperti Hikvision dan Dahua.
China kemudian memberikan respons terhadap kebijakan terbaru tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, sebagaimana dikutip Associated Press, menyatakan bahwa negaranya akan mengambil "semua langkah yang diperlukan" untuk melindungi kepentingan bisnis-bisnis China.
Dengan aturan baru tersebut, perdagangan produk teknologi antara AS dan China kembali menghadapi tekanan. Kebijakan ini juga menunjukkan bahwa isu keamanan nasional semakin menjadi pertimbangan dalam menentukan produk teknologi yang boleh masuk ke pasar AS.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!