Heboh! Aplikasi Kencan Khusus Wanita Ini Bocorkan Data Sensitif, Ribuan Identitas Tersebar Online
JAKARTA, GENVOICE.ID - Aplikasi kencan khusus wanita asal Amerika Serikat, Tea Dating Advice, tengah menjadi sorotan tajam setelah terjadi serangkaian pelanggaran keamanan serius yang menyebabkan bocornya data pribadi ribuan penggunanya, termasuk nama, selfie, dokumen identitas, hingga percakapan sensitif.
Dalam pernyataan resminya di akun TikTok, pihak Tea mengumumkan telah menangguhkan fitur pesan langsung (direct messaging) "sebagai bentuk kewaspadaan maksimal" setelah menyadari adanya pelanggaran keamanan. Langkah ini diambil setelah laporan dari media teknologi 404media yang mengungkap bahwa data sensitif ribuan wanita di aplikasi tersebut telah terbuka untuk publik.
Dalam laporan lanjutan, disebutkan bahwa bukan hanya data identitas yang bocor, tetapi juga isi pesan pribadi, termasuk percakapan terkait aborsi, perselingkuhan, dan isu-isu personal lainnya.
Ironisnya, aplikasi Tea selama ini dipromosikan sebagai "platform keamanan kencan untuk wanita" yang membantu mereka menghindari pria yang tidak jujur, berselingkuh, atau berpotensi berbahaya. Dalam salah satu video promosi di TikTok, Tea menyebut dirinya sebagai aplikasi yang "membuat kerja FBI jadi lebih mudah buat para cewek."
Fitur utama dari Tea adalah sistem "red flag" dan "green flag", pengguna bisa membagikan pengalaman buruk dengan pria tertentu secara anonim, memberi peringatan kepada wanita lain mengenai pria yang dianggap berbahaya atau tidak dapat dipercaya.
Namun, semua janji soal anonimitas itu tampaknya runtuh. Belum ada kejelasan dari pihak Tea soal mengapa selfie dan data KTP bisa tersimpan dan bocor ke ranah publik, dan hingga saat ini, perusahaan belum memberikan komentar tambahan meskipun sudah diminta oleh berbagai media.
Dalam video TikTok mereka, Tea mengklaim bahwa FBI telah mulai menyelidiki insiden ini. Namun, juru bicara FBI menolak berkomentar lebih lanjut.
Eva Galperin, Direktur Keamanan Siber di Electronic Frontier Foundation, menyebut ide di balik aplikasi Tea memang sudah mencurigakan sejak awal. "Mereka menciptakan jaringan bisik-bisik anonim berskala besar, dan itu saja sudah cukup skets," ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa para pengembang aplikasi dinilai lalai secara serius dalam aspek keamanan, dan menyebut pelanggaran ini sebagai "bencana yang diperparah oleh fakta bahwa perempuan justru didorong untuk membagikan informasi paling sensitif mereka dan orang lain."
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!