Mehdi Taremi Semprot FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 Jadi Turnamen Paling Mengecewakan untuk Iran

Mehdi Taremi Semprot FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 Jadi Turnamen Paling Mengecewakan untuk Iran
- (Dok. TIME).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kapten Timnas Iran, Mehdi Taremi, melontarkan kritik keras terhadap FIFA setelah negaranya tersingkir pada fase grup Piala Dunia 2026. Penyerang berusia 33 tahun itu menilai penyelenggaraan turnamen tidak berjalan adil bagi Iran dan menyebut pengalaman timnya selama kompetisi sebagai sebuah "bencana".

Pernyataan tersebut disampaikan Taremi setelah Iran gagal melangkah ke babak 32 besar. Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi tim sejak sebelum turnamen dimulai tidak pernah benar-benar mendapatkan solusi dari FIFA.

"Tidak adil bagi kami. Ini adalah Piala Dunia yang buruk, sebuah bencana," ujar Taremi kepada media usai pertandingan terakhir fase grup.

Pemain yang menjadi kapten Team Melli itu mengungkapkan bahwa masalah yang dihadapi Iran bukan hanya terjadi di lapangan, tetapi juga menyangkut aspek logistik dan operasional tim selama berada di Amerika Utara.

Salah satu persoalan yang paling disorot adalah belum hadirnya sejumlah staf pendukung Iran akibat kendala visa. Taremi menyebut beberapa anggota tim logistik dan ofisial tidak dapat bergabung dengan skuad hingga fase grup berakhir.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat Iran tidak mendapatkan dukungan penuh seperti tim peserta lainnya yang dapat membawa seluruh staf mereka selama turnamen berlangsung.

Taremi juga mengungkapkan bahwa Presiden FIFA, Gianni Infantino, sempat mengunjungi ruang ganti Iran setelah pertandingan pertama. Saat itu, ia mengklaim Infantino berjanji bahwa masalah yang dihadapi tim akan segera diselesaikan.

Namun, hingga Iran menyelesaikan seluruh pertandingan fase grup, berbagai kendala tersebut disebut masih belum menemukan jalan keluar.

Selain persoalan visa, Iran juga menghadapi situasi yang tidak ideal terkait lokasi markas tim. Federasi Sepak Bola Iran sebelumnya berencana menjadikan Tucson, Arizona, sebagai pusat latihan selama Piala Dunia.

Akan tetapi, rencana tersebut berubah menjelang turnamen. Tim akhirnya menggunakan Tijuana, Meksiko, sebagai basis utama menyusul meningkatnya ketegangan politik antara Iran dan Amerika Serikat.

Kondisi tersebut membuat para pemain harus melakukan perjalanan tambahan untuk keluar dan masuk wilayah Amerika Serikat setiap kali menjalani pertandingan.

Taremi menilai situasi itu berdampak langsung terhadap kebugaran skuad. Waktu istirahat dan pemulihan pemain berkurang karena perjalanan yang cukup panjang harus dijalani di tengah jadwal pertandingan yang padat.

Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan kritik terhadap masyarakat Meksiko ataupun kota Tijuana. Menurutnya, masalah utama adalah kondisi yang dinilai tidak sesuai bagi sebuah turnamen sepak bola terbesar di dunia.

"Kami mencintai masyarakat Meksiko dan kota Tijuana. Namun sebagai pemain profesional yang bermain di kompetisi profesional, situasi seperti ini tidaklah tepat," kata Taremi.

Sepanjang Piala Dunia 2026, Iran memang beberapa kali menyuarakan kekhawatiran mengenai proses perjalanan dan administrasi tim. Federasi sepak bola negara tersebut bahkan telah mengungkapkan persoalan visa sejak masa persiapan sebelum turnamen dimulai.

Di lapangan, Iran juga harus menerima kenyataan gagal lolos ke fase gugur. Team Melli finis di posisi ketiga grup dan tidak berhasil melaju melalui jalur peringkat ketiga terbaik.

Berakhirnya perjalanan Iran di Piala Dunia 2026 pun diwarnai kekecewaan yang mendalam. Kritik yang disampaikan Taremi menambah daftar kontroversi yang mengiringi perjalanan tim tersebut sepanjang turnamen berlangsung.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE