Nadin Amizah Buka Luka Lama Lewat Album Baru "Laika, Yang Ditinggalkan"
Album ketiga Nadin Amizah menghadirkan 11 lagu yang mengangkat tema duka, kehilangan, ketiadaan ayah, kemarahan, dan kerinduan untuk menemukan tempat pulang.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nadin Amizah kembali membuka lembaran baru dalam perjalanan musiknya lewat album studio ketiga berjudul "Laika, Yang Ditinggalkan". Album yang dirilis melalui label independennya, Sorai, tersebut menghadirkan 11 lagu yang kini tersedia di berbagai platform streaming digital.
Lewat album terbarunya, Nadin mengeksplorasi tema yang sangat personal, mulai dari duka, kehilangan, kerinduan, amarah, hingga pengalaman tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah. Kumpulan lagu ini sekaligus menjadi ruang bagi sang musisi untuk memproses berbagai luka dan mempertanyakan arti rumah sebagai tempat yang seharusnya memberikan rasa aman.
Kisah Laika Jadi Metafora Utama
Judul "Laika, Yang Ditinggalkan" terinspirasi dari kisah Laika, anjing milik Uni Soviet yang dikirim dalam misi luar angkasa satu arah pada 1957. Kisah tragis tersebut kemudian digunakan Nadin sebagai metafora untuk menggambarkan rasa kehilangan dan kerinduan yang tidak pernah tersampaikan.
Album ini tidak hanya membicarakan pengalaman personal, tetapi juga membawa sejumlah keresahan sosial. Nadin menyoroti pengalaman hidup tanpa figur ayah maupun rumah yang mampu memberikan rasa aman, sekaligus dampak emosional yang dapat muncul dari kondisi tersebut.
Salah satu bentuk kerentanan itu terdengar melalui lagu "Reservasi Untuk Dua". Dalam lagu tersebut, Nadin menggunakan pilihan kata yang lebih keras dan blak-blakan dibandingkan karya-karya sebelumnya.
"Ketika orang mendengar kata-kata pahit seperti 'hell' atau 'defiance' dalam lagu-lagu ini, yang sebenarnya mereka lihat adalah seorang anak yang terluka di baliknya," ujar Nadin.
Menurut Nadin, ungkapan tersebut tidak semata-mata menunjukkan kebencian. Ia justru ingin memperlihatkan rasa sakit yang dirasakan seorang anak ketika berhadapan dengan luka yang belum sepenuhnya pulih.
Terinspirasi Tragedi Banjir Jakarta
Kisah kehilangan juga menjadi sumber inspirasi untuk lagu "Ditemukan Sebuah Bangkai". Lagu tersebut lahir setelah Nadin membaca pemberitaan mengenai penemuan jenazah tanpa identitas yang hanyut di Kanal Banjir Timur saat banjir Jakarta pada 2020.
"Bayangkan, tidak ada kerabat, tidak ada keluarga, tidak ada seorang pun yang mencarinya. Gila, bukan?" kata Nadin.
Meski mengangkat kisah tragis tersebut, Nadin tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang datang untuk menyelamatkan. Ia memilih menjadi pengamat yang mencoba memahami kehancuran dan penderitaan yang terjadi di sekelilingnya.
"Saya hanya menyaksikan kehancuran yang ada di sekitar saya. Sederhananya, saya merasakan rasa sakit yang kamu rasakan," ujarnya.
Eksplorasi Musik Makin Luas
Selain dari sisi tema, "Laika, Yang Ditinggalkan" juga menunjukkan perkembangan musikal Nadin. Untuk pertama kalinya, ia menghadirkan dua lagu yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, yakni "Moonlight" yang menjadi single utama serta "Take Him To The Moon For Me".
Eksperimen bahasa juga terdengar dalam "Laika, Kau Mudah Dicinta". Lagu tersebut memperlihatkan keberanian Nadin untuk memperluas pendekatan dalam penulisan lirik sekaligus mengeksplorasi cara bercerita yang berbeda.
Dari sisi produksi, album ini menjadi salah satu proyek paling ambisius Nadin sejauh perjalanan kariernya. Sebanyak 10 produser terlibat dalam pengerjaan 11 lagu, termasuk Lafa Pratomo, Baskara Putra, Enrico Octaviano, Otta Tarega, dan Feby Putri.
Keterlibatan banyak produser tersebut ternyata sudah direncanakan sejak tahap awal. Nadin mengaku telah memiliki gambaran mengenai karakter suara album ketika proses penulisan lagu dimulai.
"Bahkan sejak proses penulisan lagu, saya sudah memiliki visi mengenai tata suara album ini, termasuk orang-orang yang saya rasa dapat mengeluarkan sisi terbaik darinya," katanya.
Jadi Kelanjutan Perjalanan Musik Nadin
"Laika, Yang Ditinggalkan" menjadi kelanjutan dari dua album sebelumnya, yaitu "Selamat Ulang Tahun" yang dirilis pada 2020 dan "Untuk Dunia, Cinta, & Kotornya" pada 2023. Lewat album ketiganya, Nadin kembali menunjukkan konsistensinya dalam mengolah pengalaman personal menjadi karya musik yang dekat dengan pendengarnya.
Sebagai musisi independen, Nadin tetap memilih Sorai sebagai rumah untuk merilis karya-karyanya. Label yang didirikannya tersebut sebelumnya menaungi sejumlah lagu populer seperti "Rumpang", "Sorai", dan "Bertaut", serta EP "(kalah bertaruh)".
Perjalanan Nadin di dunia musik juga diwarnai berbagai kolaborasi dengan musisi lain. Ia pernah menginterpretasikan ulang lagu "Kala Sang Surya Tenggelam" karya Guruh Sukarnoputra untuk soundtrack serial "Gadis Kretek", serta berkolaborasi dengan Dipha Barus lewat "All Good" dan Sal Priadi melalui "Amin Paling Serius".
Sepanjang karier solonya, Nadin telah mengantongi empat penghargaan AMI Awards, termasuk kategori Produksi Folk/Country/Balada Terbaik pada 2019, 2020, dan 2024 serta Pendatang Baru Terbaik pada 2019. Pada 2025, ia juga tercatat sebagai artis perempuan lokal dengan jumlah streaming tertinggi di Spotify Indonesia.
Melalui "Laika, Yang Ditinggalkan", Nadin Amizah menghadirkan karya yang tidak hanya berbicara tentang kehilangan. Album ini menjadi perjalanan emosional mengenai luka, amarah, kerinduan, dan keinginan untuk menemukan tempat yang benar-benar terasa seperti rumah.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!