Kasus ISPA Melonjak akibat Karhutla, Kemenkes Perkuat Perlindungan Warga di 7 Provinsi
Kabut asap karhutla meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga dengan penyakit penyerta.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mulai memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat perlindungan bagi kelompok rentan di tujuh provinsi terdampak.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Dr. dr. Then Suyanti MM, mengatakan puncak musim kemarau pada Juli hingga September 2026 meningkatkan potensi terjadinya karhutla. Paparan asap menjadi perhatian karena membawa sejumlah polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan hingga peredaran darah.
Polusi Asap Berisiko bagi Kelompok Rentan
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 serta sejumlah polutan seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Partikel dan zat tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan sehingga berisiko menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian khusus karena organ paru-paru dan sistem kognitif mereka masih berkembang. Sementara itu, paparan polusi pada lansia dapat memperburuk penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, tekanan darah, serta menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
"Kita harus memberikan pelindungan ekstra kepada kelompok rentan di sekitar kita," ujar Then dalam keterangan resmi.
Kasus ISPA Mengalami Kenaikan
Dampak memburuknya kualitas udara juga terlihat dari peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah daerah. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menyebut kenaikan kasus tersebut menjadi salah satu indikator dampak kesehatan akibat penurunan kualitas udara.
Di Kalimantan Barat, misalnya, tercatat 165.747 kasus ISPA sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 18.423 kasus dan Kalimantan Tengah mengalami lebih dari 3.000 kasus dalam periode 10 hingga 16 Agustus 2026.
Melihat perkembangan tersebut, Kemenkes telah menambah 321 tenaga kesehatan untuk memperkuat pelayanan di puskesmas maupun rumah sakit rujukan. Pemerintah juga mengirimkan berbagai perlengkapan medis ke daerah yang terdampak kabut asap.
Bantuan tersebut terdiri dari 262.000 masker medis dan N95, 119 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan medis, serta 4.900 set alat pelindung diri (APD). Dukungan logistik tersebut diharapkan dapat membantu fasilitas kesehatan menghadapi peningkatan kebutuhan pelayanan akibat dampak karhutla.
Kemenkes Siapkan Rumah Oksigen
Selain memperkuat fasilitas kesehatan, Kemenkes juga menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil, balita, dan lansia. Langkah ini dilakukan untuk membantu menjaga kondisi tubuh kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
Kemenkes turut menyiagakan Rumah Oksigen di sejumlah titik terdampak. Fasilitas tersebut berupa ruangan yang dirancang untuk mengurangi paparan asap dengan dukungan penyaring udara dan oksigen konsentrator, terutama bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan akut.
Tiga Strategi Hadapi Dampak Karhutla
Kemenkes menerapkan tiga lapisan strategi dalam menghadapi ancaman kesehatan akibat karhutla dan polusi udara. Strategi pertama berfokus pada pencegahan, seperti mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup rapat akses udara dari luar, menggunakan penyaring udara, memakai masker respirator seperti N95, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Strategi kedua diarahkan pada deteksi dan penanganan secara cepat. Fasilitas kesehatan diminta memastikan ketersediaan obat esensial, melakukan skrining kesehatan secara berkala, serta mendorong masyarakat segera mendapatkan layanan medis ketika mulai merasakan gejala.
Sementara itu, strategi ketiga difokuskan untuk mencegah kondisi pasien berkembang menjadi lebih berat. Upaya tersebut meliputi penanganan kegawatdaruratan, pencegahan komplikasi, serta mempercepat proses rujukan ke rumah sakit bagi warga yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Persiapan menghadapi risiko kesehatan akibat karhutla sebenarnya telah dilakukan sejak Mei 2026 melalui penerbitan surat edaran kewaspadaan kepada pemerintah daerah. Kemenkes juga terus menjalankan sistem kewaspadaan dini dengan memantau perkembangan penyakit setiap hari di wilayah terdampak.
Dengan meningkatnya kasus ISPA di tengah kondisi kabut asap, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi paparan polusi sebisa mungkin. Perlindungan ekstra terutama diperlukan bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!