Jeda Tempur 10 Jam di Gaza Diberlakukan, Korban Masih Berjatuhan

Jeda Tempur 10 Jam di Gaza Diberlakukan, Korban Masih Berjatuhan
- (Dok. NRC).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Israel mulai menerapkan jeda tempur harian selama 10 jam di sejumlah wilayah padat penduduk di Jalur Gaza, dengan alasan untuk memperlancar distribusi bantuan kemanusiaan. Namun, di tengah jeda yang seharusnya memberi napas bagi warga sipil, serangan udara masih terus berlangsung dan korban jiwa terus berjatuhan.

Jeda ini berlaku dari pukul 10.00 hingga 20.00 waktu setempat di Gaza City, Deir al-Balah, dan Muwasi. Militer Israel menyebut kebijakan ini sebagai "taktis" untuk meningkatkan skala pengiriman bantuan. Namun, pertempuran tetap dilanjutkan di wilayah lain.

Di saat jeda baru saja dimulai, serangan udara Israel menghantam sebuah bangunan di Gaza City dan menewaskan seorang ibu bersama empat anaknya. Di lokasi lain, 17 warga dilaporkan tewas saat sedang mengantre bantuan. Kementerian Kesehatan Palestina juga mencatat lebih dari 130 orang telah meninggal akibat kelaparan, sebagian besar anak-anak.

Pemerintah Israel berdalih bahwa langkah ini menunjukkan komitmen untuk memperbaiki situasi kemanusiaan dan menepis tudingan adanya kelaparan yang disengaja. Namun, banyak warga Palestina justru melihatnya sebagai upaya pencitraan. "Tidak ada yang berubah. Bantuan tidak cukup, dan kami tetap kelaparan," kata Eyad al-Banna, seorang guru di Gaza yang harus menghidupi tujuh anak.

Warga lainnya, Hikmat al-Masri, menyebut metode pengiriman bantuan melalui udara sebagai tindakan "memalukan" yang justru membahayakan warga. Bahkan, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan 10 orang terluka akibat tertimpa kotak bantuan yang dijatuhkan dari pesawat.

World Food Programme (WFP) menyatakan bahwa 90.000 perempuan dan anak-anak membutuhkan penanganan malnutrisi segera, dan satu dari tiga orang di Gaza tidak makan selama beberapa hari. WFP juga menyebut bahwa stok makanan yang mereka miliki sebenarnya cukup untuk seluruh penduduk Gaza selama tiga bulan-jika bisa disalurkan secara merata.

Meski bantuan mulai mengalir melalui truk dari Mesir dan airdrop dari Yordania serta UEA, jumlahnya masih jauh dari cukup. Menurut PBB, dibutuhkan setidaknya 500 truk per hari untuk mencukupi kebutuhan dasar 2,1 juta penduduk Gaza. Saat ini, Israel hanya mengizinkan sekitar 70 truk masuk setiap harinya.

Organisasi-organisasi kemanusiaan seperti Oxfam menyerukan pembukaan penuh seluruh jalur perbatasan dan gencatan senjata permanen. "Jeda ini hanya isyarat politis. Tanpa akses penuh dan aman, nyawa akan terus hilang," tegas Bushra Khalidi, perwakilan Oxfam.

Sementara itu, negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas kembali menemui jalan buntu setelah kedua belah pihak menarik delegasi mereka dari Qatar. Hingga kini, konflik yang dimulai sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan hampir 60.000 warga Gaza.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE