Sinyal Perang Dunia Ke-3? Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Ubah Peta Keamanan Timur Tengah

Sinyal Perang Dunia Ke-3? Serangan AS-Israel ke Iran Dinilai Ubah Peta Keamanan Timur Tengah
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran dinilai bukan sekadar operasi tempur biasa.

Langkah tersebut disebut berpotensi mengubah arsitektur keamanan Timur Tengah, bahkan mengguncang keseimbangan geopolitik global.

Operasi yang disebut sebagai Major Combat Operations itu dipimpin langsung oleh Presiden AS Donald Trump. Keterlibatan terbuka Washington menandai babak baru dalam dinamika konflik kawasan yang selama bertahun-tahun berlangsung dalam bayang-bayang.

Pengamat Politik dan Militer dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai pesan serangan tersebut tidak hanya ditujukan kepada Teheran. Menurutnya, sinyal keras juga dikirim ke Moskow, Beijing, Riyadh, hingga Brussel-bahwa Amerika Serikat memilih jalur konfrontasi terbuka.

"Selama bertahun-tahun konflik Israel dan Iran berlangsung dalam bentuk perang bayangan-sabotase fasilitas nuklir, serangan siber, operasi intelijen, hingga pertempuran tidak langsung melalui aktor proksi. Kini, fase itu telah berakhir," ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

Serangan udara di sekitar Teheran disebut sebagai eskalasi drastis. Bukan lagi pesan simbolik, melainkan demonstrasi kemampuan dan kemauan untuk menghantam pusat gravitasi politik serta militer Iran.

Menurut Selamat, keterlibatan langsung Amerika Serikat mengubah kalkulasi strategis secara signifikan. Jika sebelumnya Israel dapat bertindak secara unilateral dengan risiko regional yang relatif terbatas, kini konflik tersebut memasuki dimensi kekuatan adidaya. Ambang eskalasi pun menjadi jauh lebih tipis.

Secara militer, tujuan operasi dinilai cukup jelas: melumpuhkan sistem rudal balistik, jaringan komando dan kontrol, serta infrastruktur militer yang dianggap mengancam Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk. Target yang lebih sensitif adalah program nuklir Iran-isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama.

Secara geopolitik, serangan ini dinilai sebagai bentuk tekanan agar Iran menerima batasan yang sebelumnya gagal dicapai melalui jalur diplomasi. Namun sejarah menunjukkan, tekanan militer eksternal kerap memperkuat konsolidasi internal rezim, bukan melemahkannya.

"Serangan terhadap wilayah metropolitan seperti Teheran berisiko membangkitkan nasionalisme defensif di dalam negeri Iran," kata Selamat.

Ia menegaskan, risiko terbesar bukan terletak pada serangan pertama, melainkan respons berikutnya. Iran memiliki spektrum balasan yang luas-mulai dari rudal balistik, drone jarak jauh, serangan siber, hingga aktivasi jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.

Jika kelompok seperti Hizbullah terlibat, Israel berpotensi menghadapi perang dua front. Sementara jika pangkalan AS di kawasan Teluk diserang, Washington hampir pasti terdorong memperluas operasi militernya.

Konflik yang semula tampak sebagai operasi terbatas bisa berubah menjadi perang regional yang melibatkan Levant dan Teluk Persia secara simultan. Di titik inilah kalkulasi militer menjadi sangat kompleks.

Serangan cepat mungkin efektif secara taktis. Namun tanpa strategi keluar yang jelas, operasi tersebut berisiko berkembang menjadi konflik berkepanjangan-dengan dampak yang tak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga pada stabilitas global, termasuk pasar energi dunia.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE