25 Tahun Putera Sampoerna Foundation: Kolaborasi untuk Pendidikan Inklusif dan Masa Depan Lebih Baik
JAKARTA, GENVOICE.ID - Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional sekaligus 25 tahun kiprahnya, Putera Sampoerna Foundation (PSF) menggelar PSF Education Summit: Transforming Lives, Shaping the Future. Acara ini menjadi ajang berkumpulnya berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas pendidikan, hingga pelaku industri teknologi untuk bersama-sama mencari solusi meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia.
Lewat forum ini, PSF ingin menegaskan tentang pendidikan yang tidak bisa dibangun sendirian. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar pendidikan bisa lebih merata, inklusif, dan berkelanjutan.
Meski banyak kemajuan telah dicapai, tantangan pendidikan di Indonesia masih cukup besar. Data dari World Bank menunjukkan bahwa masih banyak siswa berpotensi tinggi yang belum mendapatkan kesempatan optimal, terutama karena akses dan kualitas pendidikan yang belum merata.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa angka partisipasi pendidikan tinggi (GER) Indonesia pada 2025 baru mencapai 32,89%. Artinya, lebih dari setengah usia kuliah belum sempat mengenyam pendidikan tinggi. Kesenjangan ini paling terasa bagi masyarakat berpenghasilan rendah, siswa dari daerah, serta generasi pertama yang melanjutkan ke bangku kuliah.
Dalam sambutannya, perwakilan Dinas Pendidikan DKI Jakarta menegaskan bahwa di era kecerdasan buatan (AI), peran guru justru semakin penting. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membimbing siswa dengan empati dan membentuk karakter mereka.
Pesan ini sejalan dengan pandangan PSF bahwa peningkatan kualitas guru adalah fondasi utama pendidikan yang berdampak.
Selama seperempat abad, PSF telah menunjukkan komitmennya melalui berbagai program nyata. Lebih dari 53 ribu beasiswa telah diberikan, dan program pengembangan guru telah menjangkau lebih dari 34 provinsi di Indonesia.
Bagi PSF, pendidikan bukan sekadar proses belajar, tetapi alat untuk mentransformasi kehidupan.
Salah satu penerima manfaat, Tinton Galih Yudhianto, merasakan langsung dampak beasiswa PSF saat menempuh pendidikan di Universitas Airlangga. Ia menggambarkan pendidikan sebagai "paspor" menuju kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga cara berpikir, kepercayaan diri, dan jaringan yang terbentuk.
Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Iswatul Khoiriyah, seorang kepala sekolah yang mengikuti pelatihan guru PSF. Ia mengaku mendapatkan banyak wawasan baru yang langsung diterapkan di kelas, terutama dalam mempersiapkan siswa menghadapi masa depan.
Di era digital, teknologi juga menjadi bagian penting dari solusi pendidikan. Waitatiri, seorang praktisi edutech, berbagi pengalamannya mengembangkan inisiatif "Ponsel untuk Sekolah" saat pandemi 2020 untuk membantu siswa mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Menurutnya, ke depan, pendidikan harus mampu membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis dan penggunaan teknologi secara bijak.
Melalui rangkaian diskusi hingga workshop untuk guru, PSF berharap acara ini bisa menjadi ruang kolaborasi yang nyata. Tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi juga melahirkan aksi bersama untuk mempercepat transformasi pendidikan. Menutup acara, PSF kembali menegaskan komitmennya dalam pendidikan. Ketika pendidikan mampu mengubah kehidupan individu, dampaknya akan meluas dan membentuk masa depan bangsa yang lebih baik. Dengan semangat 25 tahun ini, PSF ingin terus menjadi bagian dari perubahan tersebut, bersama semua pihak yang peduli pada masa depan pendidikan Indonesia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!