Wabah Virus Nipah Muncul Lagi di India, Ketahui Gejalanya Berikut Ini!

Wabah Virus Nipah Muncul Lagi di India, Ketahui Gejalanya Berikut Ini!
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kasus penyakit akibat virus Nipah kembali menyita perhatian setelah India melaporkan wabah di negara bagian West Bengal.

Otoritas setempat mencatat sedikitnya lima orang terkonfirmasi terinfeksi, sementara sekitar 100 orang yang memiliki kontak erat dengan pasien positif harus menjalani isolasi dan pemantauan ketat.

Wabah ini bermula dari dua perawat yang bekerja di Kota Barasat. Salah satu perawat pria dilaporkan telah membaik, sedangkan perawat wanita masih menjalani perawatan intensif di ICCU. Dari dua kasus awal tersebut, penularan kemudian terjadi pada tiga orang lainnya, menegaskan bahwa transmisi antar manusia memang dimungkinkan pada virus Nipah.

Meski demikian, epidemiolog Dicky Budiman menilai potensi virus Nipah berkembang menjadi pandemi global relatif rendah, terutama jika dibandingkan dengan penyakit saluran pernapasan seperti COVID-19. Menurutnya, karakter penularan Nipah yang membutuhkan kontak dekat membuat penyebarannya lebih terbatas. Secara global, virus ini cenderung memicu wabah berskala lokal atau klaster, bukan penyebaran luas lintas negara.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang disebabkan oleh Henipavirus dari famili Paramyxoviridae. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada wabah tahun 1998-1999 di Malaysia, yang menular dari babi ke manusia dan menyebabkan ratusan kasus dengan tingkat kematian tinggi. Pembawa alami virus Nipah adalah kelelawar buah. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau konsumsi makanan yang terkontaminasi urine maupun air liur kelelawar, seperti buah atau nira kelapa.

Penularan antar manusia berbeda dengan COVID-19. Virus Nipah tidak menyebar melalui udara, melainkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, seperti droplet pernapasan, darah, atau urine. Risiko penularan meningkat dalam situasi perawatan pasien atau kontak erat dalam lingkungan keluarga.

Gejala infeksi virus Nipah bervariasi. Pada fase awal, pasien biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, dan keluhan mirip flu. Pada kondisi lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia, gangguan pernapasan serius, hingga komplikasi neurologis seperti ensefalitis yang ditandai kebingungan, kejang, dan koma. Tingkat kematian pada kasus berat dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan pentingnya kewaspadaan Indonesia meskipun risiko pandemi global dinilai rendah. Ia menekankan bahwa WHO sejak 2018 telah memasukkan penyakit akibat virus Nipah sebagai prioritas penelitian dan pengembangan, menandakan ancamannya yang serius secara global. Menurutnya, Indonesia perlu terus memantau perkembangan di India dan negara sekitar, serta memperkuat koordinasi dengan WHO dan lembaga regional untuk deteksi dini dan asesmen risiko.

Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat spesifik untuk virus Nipah. Karena itu, upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengendalian wabah secara ketat tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman penyakit ini.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE