Bantah Indonesia Malas Baca! Anak Muda Serbu Taman dan KRL demi Buku, Gubernur Langsung Ubah Jam Operasional Perpustakaan!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Di tengah anggapan bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah, pemandangan di berbagai sudut Jakarta justru menyuguhkan cerita sebaliknya. Suatu sore di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, puluhan anak muda membentangkan karpet piknik dan tenggelam dalam dunia buku. Mereka membaca dalam hening selama 1,5 jam, dari Agatha Christie hingga Dewi Lestari. Inilah aktivitas rutin dari komunitas Book Clan Jakarta, yang konsisten menularkan semangat membaca, bahkan di transportasi umum.
Dilansir dari Antara, di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, komunitas lain, Silent Book Club, juga aktif menyebarkan budaya baca. Diinisiasi oleh Duta Baca DKI Jakarta 2023 Hestia Istiviani, komunitas ini mengajak warga untuk duduk bersama, membaca tanpa basa-basi, lalu pulang dengan tenang. Tak butuh obrolan, cukup satu jam bersama buku favorit.
Gerakan-gerakan ini tidak berhenti di Jakarta. Di banyak kota, komunitas serupa bermunculan, membuktikan bahwa anak muda Indonesia tidak kekurangan minat baca, mereka hanya butuh ruang dan kebiasaan.
"Masalahnya bukan minat baca rendah, tapi pembiasaan yang belum terbentuk," kata Samuel Pandiangan, pendiri Indonesia Book Party, dalam peringatan 75 tahun IKAPI.
Semangat anak muda tersebut pun memicu aksi dari pemerintah. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengambil langkah konkret dengan memperpanjang jam operasional perpustakaan menjadi pukul 09.00 hingga 22.00 WIB setiap hari. Dampaknya langsung terasa, kunjungan ke Perpustakaan Jakarta meningkat hingga 53 persen.
Namun perjuangan ini tidak bisa berdiri sendiri. Kepala Perpustakaan Nasional, E Aminudin Aziz, menekankan pentingnya tanggung jawab bersama antara penulis, penerbit, dan perpustakaan dalam memastikan kualitas buku yang tersedia. Ia bahkan menyebut, penulis yang sengaja membuat karya tanpa nilai inspiratif menanggung "dosa besar."
Pernyataan tersebut menuai respons keras dari penulis muda ternama JS Khairen. Ia menilai masalahnya bukan pada penulis, tapi kurangnya dukungan sistemik.
"Penulis sudah berjuang keras, bahkan membangun ekosistem pembaca di TikTok. Tapi kalau kebijakan tak berpihak, semua sia-sia," ujarnya.
Tak hanya itu, penulis senior Maman Suherman turut menyoroti beratnya pajak untuk penulis, mahalnya harga kertas, dan ketidakadilan regulasi.
"Negara masih menganggap buku di perpustakaan sebagai aset mati, padahal buku harusnya bergerak, meski sobek, lecek, atau basah, itu tandanya dibaca," ujarnya.
Di balik semangat komunitas baca, ekosistem penerbitan Indonesia menghadapi tantangan berat. Dari 2.721 penerbit yang terdaftar di bawah IKAPI, hanya sekitar sepertiga yang masih aktif. Disrupsi digital dan pandemi jadi penyebab utama.
Namun harapan belum padam. Kemendikdasmen tengah menyusun peraturan turunan dari UU Sistem Perbukuan di beberapa daerah. Dana BOS kini juga mengalokasikan 10 persen untuk pembelian buku non-teks, termasuk fiksi.
Perpusnas bahkan memangkas waktu penerbitan ISBN menjadi maksimal tiga hari, asal dokumen lengkap. Penulis pun didorong merevisi cepat jika ada catatan agar naskah bisa segera terbit.
Dari karpet piknik di taman hingga kebijakan negara, semangat literasi Indonesia sedang bangkit.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!